Monday, March 6, 2017

Inspiratif...! Transformasi Sang PRAJURIT, Dari Badan Kurus Menjadi PASPAMPRES Kekar Berotot...

Patriot NKRI - Jika kita melihat anggota-anggota militer yang sedang bertugas pastinya kita juga terbiasa melihat badan-badan mereka yang kekar, tegap dan berwibawa. Begitu juga dengan sosok yang satu ini. Vicky Arifin. 
Baca Juga: Wow...! Hanya Dengan IKAN ASIN, TNI Kalahkan Pemberontak Yang Sulit Ditumpas
Didorong dengan profesi, eksistensi dan hobinya berolahraga, pria kelahiran Surabaya, 9 April 1984 ini mulai rutin melakukan fitness untuk membentuk otot dan menjaga kebugaran tubuhnya (Foto Cover: Vicky Arifin, sumber: reps-d.com, @vicky13borneo). Awalnya, Vicky begitulah ia terbiasa dipanggil, belum mengenal dunia fitness. Ia hanya sekedar berolahraga untuk menjaga kesehatan dan kebugarannya agar tidak mudah terserang penyakit. Pria yang pernah menjadi anggota PASPAMPRES (Pasukan Pengamanan Presiden) pada tahun 2014 ini memang sangat suka berolahraga terlebih semenjak dirinya menempati rumah dinasnya di Bogor. Ketika tim REPS bertanya apa hal yang memotivasi Vicky dalam melakukan fitness, iapun menceritakannya kepada tim REPS.
      Awal mulanya adalah ketika ia sedang melaksanakan tugasnya mengawal Presiden kesuatu tempat. Ia melihat seseorang yang sedang menjalankan dinas ditempat itu. Orang itu memakai seragam dan berbadan kekar sehingga terlihat sangat berwibawa. 
       Saat itu ia termotivasi ingin memiliki badan seperti orang itu dan tertarik untuk membentuk badannya. Ia pun bertanya pada orang itu bagaimana caranya agar bisa memiliki badan tegap dan kekar sepertinya, dan orang itu menjawab fitnesslah yang membuat badannya tegap dan kekar. Sejak saat itulah ia mulai rutin latihan dan membentuk tubuhnya di gym.
Baca Juga: Video Kocak...! Youtuber Rusia Mencoba Ransum TNI. Lihat Reaksinya...!
      Bukan hal yang baru untuk seorang tentara seperti Vicky memiliki keinginan membentuk tubuhnya menjadi kekar layaknya para binaragawan. Karena sebagai Pasukan Pengamanan Presiden sudah semestinya Vicky memiliki kualitas badan yang prima, bugar dan tidak mudah terserang penyakit. Juga harus agresif karena tanggung jawab tugasnya sangatlah besar yaitu mengawal dan mengamankan orang nomor satu di negara kita. Selain itu untuk eksistensinya yang mendukung untuk melakukan tugas kesehariannya, ia mulai melakukan latihan beban disela-sela tugasnya.
      Setiap hari Vicky harus membagi waktu latihan dan tugasnya sebagai anggota militer. Karena bagaimannpun ia tidak boleh meninggalkan tugasnya itu. Setiap pagi pukul 07.00 dia mulai melaksanakan tugasnya dan menyelesaikan tugasnya pada pukul 15.30. Setelah itu ia menuju tempat gym dan memulai latihannya.
Baca Juga: WAJIB Baca...! Bikin HARU dan LUCU...Inilah Perintah Pertama Soekarno Sebagai Presiden RI.
Pola latihan dan diet
Karena di Indonesia lebih dominan dengan body contest maka dalam melakukan fitness Vicky memusatkan latihannya pada pembentukan body ideal saja, karena memang tujuan utamanya membentuk badan yang kekar. Tetapi ia pun tidak melupakan latihan untuk otot kaki sesuai dengan kebutuhan ideal body karena tugasnya sehari-hari lebih banyak dilakukan dengan posisi berdiri sehingga otot kaki juga harus kuat.
      Ia lebih fokus kepada body contest karena menurutnya di Indonesia kebutuhannya lebih banyak mengacu pada body contest. Sementara untuk binaraga mungkin baru sedikit event-event yang diadakan, sehingga ia memfokuskan latihannya pada body contest. Selain itu dia rasa untuk binaraga ia perlu latihan lebih lanjut karena binaraga jauh lebih senior dibandingkan dengan body contest.
     Untuk pola makan sehari-hari Vicky tidak perlu repot untuk mengaturnya karena ia sudah terbiasa mengatur pola makannya. Untuk melakukan diet dia tidak perlu waktu lama seperti pada umumnya yang bisa memakan waktu 2 sampai 3 bulan. Dia hanya butuh waktu 3 hari saja untuk melakukan dietnya. 
Baca Juga: DRAMATIS & LUCU: Kisah Kopassus SERGAP Musuh di Belantara Jabar
Pria asal Kalimantan Timur ini sudah terbiasa memakan makanan yang dimasak dengan cara direbus, sehingga tidak mengandung kolesterol yang ditimbulkan dari makanan yang dimasak dengan cara digoreng dan menurutnya direbus lebih hemat. Dia juga menunjangnya dengan mengkonsumsi suplemen pendukung untuk menjaga stamina dan pembentukan ototnya. “Kalau suplemen mungkin saya menggunakan Whey atau Mass gainer”, ujarnya saat tim REPS mewawancarainya.
      Sebelum mengakhiri perbincangan dengan tim REPS, Vicky berpesan bahwa “sebaiknya kita kembali ke dasar atau tujuan utama kita dalam fitness, yaitu untuk kesehatan dan melatih badan kita bukan untuk merusaknya dengan hal-hal yang negatif. Jagalah badan dengan cara berolahraga untuk kebugaran dan menjaga pola makan kita sehari-hari. Saat ini kita bisa melihat pola makan yang baik melalui internet ataupun media lainnya sehingga tidak ada alasan untuk tidak mengetahuinya.”
Baca Juga: NGERI...! JAGOAN TNI AU Marah BESAR: Lihat Jenderal Makan DAGING, Prajurit Cuma Dikasih TEMPE
Sumber: reps-id.com

[KAMP dan GELANGGANG NERAKA]...! Latihan HIDUP MATI Komando KOPASSUS Yang Bikin Dunia Merinding..!

Patriot NKRI - Hanya mereka yang memiliki mental baja yang mampu melalui pelatihan komando. Peserta yang gagal akan dikembalikan ke kesatuan Awal untuk kembali bertugas sebagai Prajurit biasa. Komando Pasukan Khusus TNI AD atau Kopassus dikenal sebagai salah satu pasukan khusus terbaik di dunia. Tidak bisa sembarangan untuk mendapatkan baret merah dan brevet komando kebanggaan korps tersebut. Para prajurit harus melewati pelatihan khusus yang nyaris melewati kemampuan batas manusia.
      Tahapan pertama yang harus dilalui adalah Tahap Basis, yaitu pemusatan pelatihan di Pusat Pendidikan Pelatihan Khusus, Batujajar, Bandung. Di sini para calon prajurit komando dilatih keterampilan dasar seperti menembak, teknik dan taktik tempur, operasi raid, perebutan cepat, serangan unit komando, navigasi darat dan berbagai keterampilan lain. Selesai latihan basis, dilanjutkan dengan Tahap Hutan Gunung yang diadakan di Citatah, Bandung. Di sini para calon prajurit komando berlatih untuk menjadi pendaki serbu, penjejakan, anti penjejakan, survival di tengah hutan. Dalam Pelatihan Survival para calon Prajurit komando harus bisa hidup di hutan dengan makanan alami yang tersedia di hutan. Dengan latihan ini Para Prajurit Komando harus bisa membedakan tumbuhan yang beracun dan dapat dimakan, dan juga mampu berburu binatang liar untuk mempertahankan hidup. 
      Tahap latihan hutan gunung diakhiri dengan long march dari Situ lembang ke Cilacap dengan membawa amunisi, tambang peluncur, senjata dan perlengkapan perorangan.
      Mantan Kepala Staf TNI AD Jenderal (Purn) Pramono Edhie Wibowo membeberkan pengalamannya saat mengikuti latihan Komando Kopassus. Pramono menuliskannya dalam buku Pramono Edhie Wibowo dan Cetak Biru Indonesia ke Depan yang diterbitkan QailQita Publishing tahun 2014.
Mengintip "Neraka" di Cilacap
      Latihan terberat sudah menanti saat sampai di Cilacap. ini adalah latihan tahap ketiga yang disebut latihan Tahap Rawa Laut, calon prajurit komando berinfliltrasi melalui rawa laut. 
      Di sini materi Latihan meliputi navigasi Laut, Survival laut, Pelolosan, Renang ponco dan pendaratan menggunakan perahu karet. Para calon prajurit komando harus mampu berenang melintasi selat dari Cilacap ke Nusakambangan. 
"Latihan di Nusakambangan merupakan latihan tahap akhir, oleh karena itu ada yang menyebutnya sebagai hell week atau minggu neraka. Yang paling berat, materi latihan 'pelolosan' dan 'kamp tawanan'," kata Pramono.

Dilepas tanpa bekal

Dalam latihan itu para calon prajurit komando dilepas pagi hari tanpa bekal, dan paling lambat pukul 10 malam sudah harus sampai di suatu titik tertentu. selama "pelolosan" si calon harus menghindari segala macam rintangan alam maupun tembakan dari musuh yang mengejar. 

Dalam pelolosan itu, kalau siswa sampai tertangkap maka itu berarti neraka baginya karena dia akan diinterogasi layaknya dalam perang. Para pelatih yang berperan sebagai musuh akan menyiksa prajurit malang itu untuk mendapatkan informasi. 

Dalam kondisi seperti itu, si prajurit harus mampu mengatasi penderitaan, tidak boleh membocorkan informasi yang dimilikinya. Untuk siswa yang tidak tertangkap bukan berarti mereka lolos dari neraka. Pada akhirnya, mereka pun harus kembali ke kamp untuk menjalani siksaan.

Kamp tawanan

Selama tiga hari siswa menjalani latihan di kamp tawanan. dalam kamp tawanan ini semua siswa akan menjalani siksaan fisik yang nyaris mendekati daya tahan manusia. 
"Dalam Konvensi Jenewa, tawanan perang dilarang disiksa, namun para calon prajurit Komando itu dilatih untuk menghadapi hal terburuk di medan operasi. Sehingga bila suatu saat seorang prajurit komando di perlakukan tidak manusiawi oleh musuh yang melanggar konvensi Jenewa, mereka sudah siap menghadapinya," tulis Pramono Edhie.

Beratnya persyaratan untuk menjadi prajurit kopassus dapat dilihat dari standar calon untuk bisa mengikuti pelatihan. Nilai standar fisik untuk prajurit nonkomando adalah 61, namun harus mengikuti tes prajurit komando, nilainya minimal harus 70. Begitu juga kemampuan menembak dan berenang nonstop sejauh 2000 meter. 

"Hanya mereka yang memiliki mental baja yang mampu melalui pelatihan komando. Peserta yang gagal akan dikembalikan ke kesatuan Awal untuk kembali bertugas sebagai Prajurit biasa," tutup mantan Danjen Kopassus ini.
Sumber: merdeka.com

Saturday, March 4, 2017

Anggotanya DIGANTUNG, MARINIR Siap TENGGELAMKAN Singapura...Ngeri...!

Patriot NKRI - Mereka tegar sekali, berjalan dengan sikap sempurna sebagai prajurit menuju tiang gantungan. Mereka digantung bergantian memakai satu tali gantungan.
      Sebagai bentuk penghormatan kepada prajurit yang berjasa bagi bangsa dan negara, TNI AL berniat menamai kapal perangnya dengan nama KRI Usman Harun. Sersan Dua Usman Janatin dan Kopral Harun Said merupakan anggota KKO (Korps Komando Operasi; kini disebut Marinir) yang tewas di tiang gantung Singapura (Foto Cover: Marinir).
Pahlwan Nasional Usman dan Harun, Anggota KKO yang tewas ditiang gantungan
      Pemberian nama Usman Harun kepada kapal perang itu mendapat tentangan keras dari pemerintah Singapura. Alasannya penamaan kapal perang tersebut akan melukai perasaan rakyat negeri jiran itu.
KRI Usman harun
      Usman dan Harun sendiri merupakan anggota satuan elite Marinir (KKO) yang ditugaskan mengebom pusat keramaian di Singapura pada 1965. Keduanya adalah marinir yang melaksanakan tugas negara pada periode konfrontasi dengan Federasi Malaya. Setelah tertangkap, keduanya kemudian dieksekusi dengan cara digantung pada 17 Oktober 1968.
      Digantungnya dua prajurit KKO mengakibatkan aksi demonstrasi terjadi di mana-mana. Rakyat menuntut agar Presiden Soeharto menyatakan perang dengan Singapura.
Dalam buku 'Singapura Basis Israel Asia Tenggara', Rizki Ridyasmara menuliskan; "Kala itu bahkan terdengar suara bahwa KKO sudah siap menyerang Singapura dan dalam tempo dua jam sanggup menenggelamkan negara kecil tersebut ke dasar Selat Malaka".
      Dalam buku setebal 212 halaman tersebut, Rizki menuliskan, ancaman KKO tersebut bukan gertakan semata. Saat itu, kekuatan armada perang Republik Indonesia warisan Presiden Soekarno sangat ditakuti di Asia Tenggara.
"Australia pun kecut untuk berbuat macam-macam dengan Indonesia. Soekarno telah mewariskan armada perang yang kuat kepada Soeharto", tulis Rizki dalam Bab IV: Moncong Meriam di Jidat Indonesia.
      Namun sayang, Presiden Soeharto yang baru memimpin republik ini belum menyatakan perang dengan negara yang luasnya tidak lebih dari dua kali Kabupaten Karawang itu. Oleh Soeharto , keduanya langsung diberi gelar pahlawan dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.
Misi Negara
      Bermula dari pidato Presiden Soekarno di Lapangan Ikada (sekarang Lapangan Monumen Nasional), 27 Juli 1963. Para pemuda, termasuk Usman dan Harun, tergerak mendaftar menjadi relawan Ganyang Malaysia. Bahkan jumlah mereka mencapai 21 juta orang. 
      Singapura saat masa konfrontasi, 1963-1965, terasa mencekam. Pemerintah negara kota itu sudah memperingatkan penduduk lewat siaran televisi dan radio agar menjauhi tempat-tempat keramaian. Sebab ledakan bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. 
       Era konfrontasi dipicu oleh berdirinya negara Federasi Malaysia pada 1957. Presiden Soekarno menudingnya sebagai negara boneka Inggris, serta dibentuk untuk melemahkan perekonomian Indonesia. Dalam pidato 27 Juli 1963 di Lapangan Ikada, Soekarno mengobarkan slogan Ganyang Malaysia. 
      Sejak pidato Soekarno pula, kecemasan dan ketakutan melanda warga Singapura. Penduduk di kampung-kampung giat melaksanakan ronda malam. Dari data kepolisian Singapura, kata Salim, selama masa konfrontasi terjadi 42 ledakan di seantero Negeri Singa itu.
      "Waktu itu hampir semua pemuda rela mati demi mempertahankan keutuhan bangsa dari para penjajah, termasuk Usman dan Harun," kata Manoar Nababan, pensiunan Korps Komando Operasi (KKO) Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut berpangkat Pembantu Letnan Satu.
Sebelum melancarkan perang terbuka Indonesia melancarkan operasi hitam atau misi intelijen untuk mengacak-acak negara musuh. Ada 30 prajurit KKO, termasuk Usman dan Harun, diterjunkan untuk melaksanakan misi sabotase di Singapura.
Prajurit KKO
      "Mereka diberangkatkan bertahap dari Pulau Sambu (Kepulauan Riau)," kata lelaki 74 tahun bernama samaran Bakrie bin Atub saat menyusup ke Malaysia. Manoar memperoleh rincian ini dari sejumlah tim intelijen Brahma selamat kembali ke Pulau Sambu. 
      Karena operasi intelijen, 30 anggota KKO itu harus memakai nama samaran. Komandan Brahma Kapten Paulus Subekti memilihkan nama-nama palsu itu untuk ke-30 anak buahnya. Usman adalah nama samaran bagi Janatin bin Muhammad Ali. Harun bin Said dipakai oleh Tahir bin Mandar. Gani bin Arup juga nama samaran. Tapi Manoar tidak tahu nama aslinya.
      Manoar tidak ingat kapan Usman, Harun, dan Gani menyusup ke Singapura. Ketiganya berangkat menumpang kapal tekong. Ini merupakan perahu bermotor dengan kekuatan 200 PK. Biasanya kapal ini mengangkut barang selundupan, seperti karet dan pakaian. 
      Tekong mengetahui siapa sebenarnya ketiga orang berpakaian sipil itu. Namun dia mesti mengunci mulutnya rapat-rapat karena dia sudah dibayar, termasuk dibekali uang buat menyuap petugas bea dan cukai Singapura. 
      Usman, Harun, dan Gani masing-masing dilengkapi bahan peledak jenis TNT disembunyikan di antara barang selundupan. Ketiganya juga dibekali USD 1 ribu. "Penyusupan itu berlangsung malam," ujar Manoar. 
      Operasi bersandi Brahma ini juga berlangsung di wilayah timur Malaysia atau Kalimantan Utara. Tidak semua penyusupan berlangsung mulus. beberapa ditangkap dan sebagian ditembak mati tentara musuh. "Semua ciri kemiliteran dihilangkan, kita harus bisa berbaur dengan sipil. Sisanya kita dibekali seribu dolar Amerika," tutur Manoar.
      Usman, Harun, dan Gani akhirnya berhasil melaksanakan tugas mereka: meledakkan jembatan penghubung antara Johor dan Singapura serta gedung MacDonald House. Mereka juga berhasil memetakan wilayah musuh dan sasaran strategis. 


Gedung MacDonald House

Dua sahabat setali gantungan

Kamis subuh, 17 Oktober 1968. Suasana hening masih menyelimuti Penjara Changi, Singapura. Namun kondisi Usman dan Harun tentu sebaliknya. Perasaan mereka campur aduk: sedih dan kecewa. 
Sehabis salah subuh, sipir membuka pintu sel mereka. Rupanya Usman dan Harun kesatria sejati. Mereka tetap tegar. Sepasang petugas penjara mengapit masing-masing Usman dan Harun menuju sebuah ruang khusus terletak di tengah kompleks Penjara Changi. Di sanalah mereka bakal menjemput ajal. 

"Mereka tegar sekali, berjalan dengan sikap sempurna sebagai prajurit," kata Humphrey Djemat saat ditemui merdeka.com di kantornya, lantai sembilan Plaza Gani Djemat, Jakarta Pusat. "Jadi tidak benar mereka dibius lalu urat nadi mereka dipotong."

Humphrey mendapat cerita dari mendiang ayahnya, Gani Djemat. Ketika eksekusi itu dilaksanakan, Gani Djemat hadir sebagai perwakilan keluarga. Jabatannya saat itu adalah atase militer di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura.
Masih menurut cerita Gani Djemat, kata Humphrey, prosesi hukuman gantung berlangsung sekitar dua jam, dimulai pukul enam pagi. "Mereka digantung bergantian memakai satu tali gantungan. Wajah mereka ditutup," ujar Humphrey. 

Sebelum pelaksanaan hukuman mati itu, Gani Djemat empat kali menemui Usman dan Harun di tahanan. Sayangnya pertemuan dilakoni pihak Kedutaan Indonesia boleh dibilang sangat terlambat. Namun bukan kesalahan mereka. Tapi pihak Singapura memang baru memberitahu soal Usman dan Harun secara resmi dua bulan sebelum mereka digantung. 

Sejak itu Gani Djemat ditugasi atasannya, Wakil Duta Besar Abdul Rahman Ramli, mengurus masalah kedua anggota Korps Komando Operasi tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut itu. Biasanya Gani menemui keduanya di ruangan khusus sekitar sejam. 

Gani terus terang mengakui sangat terkejut melihat ketegaran Usman dan Harun. Mereka berkeyakinan melaksanakan tugas negara dan bukan teroris. "Hebat benar dua orang itu. Saya nggak nyangka. Saya pikir waktu ketemu pertama kali semangat mereka akan hilang dan putus asa," tutur Humphrey.

Selama dua bulan itu pula, Gani ikut mengupayakan mengubah hukuman mati buat Usman dan Harun, termasuk meminta maaf dari keluarga korban. Tetap saja vonis Hakim J. Chua dari Pengadilan Tinggi Singapura tidak mampu diganti. Hingga akhirnya kedua sahabat itu menjemput ajal di satu tali gantungan. 
Pengorbanan dan jasa yang disumbangkan oleh Usman dan Harun terhadap Negara dan Bangsa maka Pemerintah telah menaikkan pangkat mereka satu tingkat lebih tinggi yaitu Usmar alias Janatin bin Haji Muhammad Ali menjadi Sersan Anumerta KKO dan Harun alias Tohir bin Mandar menjadi Kopral Anumerta KKO. Sebagai penghargaan Pemerintah menganugerahkan tanda kehormatan BintangSakti dan diangkat sebagai Pahlawan Nasional.


Jenazah Usman Dan Harun diturunkan dari pesawat

Baca Juga:


Sumber: merdeka.com

NGAKAK...6 ATURAN Prajurit di Toilet PERBATASAN RI Dan Papua Nugini Ini Pasti Bikin Kamu KETAWA Cekikikan...


Patriot NKRI - Prajurit TNI AD yang bertugas di perbatasan Republik Indonesia dan Papua Nugini memiliki cara sendiri untuk mengingatkan rekan-rekan mereka agar tetap menjaga kebersihan toilet.

Salah satu aturan penggunaan toilet yang menarik perhatian masyarakat sipil adalah yang diterapkan di kalangan anggota Kantor Perwakilan Satgas Pamtas RI-PNG (Foto Cover: Patroli TNI di Perbatasan Papua).
Baca Juga: Dor...! Dor...!...Bak DJANGO, Prajurit Sutarmono Robohkan 3 Tentara Belanda di Irian. Heroik...!
Aturan yang diunggah salah satu prajurit di Facebook berisi enam poin.

Satu, kencing dan BAB secukupnya.

Dua, untuk mengurangi antrian dilarang menyanyikan lebih dari dua buah judul lagu di dalam toilet.

Tiga, dilarang menyanyikan lagu perjuangan di dalam toilet.

Empat, dilarang membuang puntung rokok di dalam toilet karena menyebabkan rokok basah dan tidak bisa dinyalakan.
Baca juga: Menegangkan..! Merebus Sepatu Lars Untuk Bertahan Hidup Di Tengah Belantara. Kisah Pasukan TNI Merebut Irian...
Lima, dilarang membuang pembalut di dalam toilet (softex, kotex, pos kota, suara merdeka, radar papua, dll).

Enam, ingat!! ini adalah misi rahasia dilarang meninggalkan jejak apapun di dalam toilet.

Menurut salah satu prajurit TNI AD kepada Suara.com pesan tersebut bertujuan untuk menjaga kebersihan dan agar prajurit jangan berlama-lama di dalam toilet.

"Tulisan itu sebagai hiburan untuk mengingatkan teman pada saat di toilet," katanya kepada Suara.com. "Membangkitkan senyum rekan-rekan pada saat di toilet dengan gurauan."

Baca Juga:


Sumber: suara.com

Friday, March 3, 2017

IRONIS DAN DRAMATIS...!! Peperangan Guru Melawan Murid Pun Berkobar. PEDIH, Tapi Harus Dilakukan...


Patriot NKRI - Peperangan guru melawan murid pun berkobar. Pedih, tapi harus dilakukan.

Jenderal (Purn) Abdullah Makhmud Hendropriyono meluncurkan buku berjudul Operasi Sandi Yudha, Menumpas Gerakan Klandestin. Buku yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas ini menceritakan pengalaman tempur Hendro sebagai perwira pertama Pusat Pasukan Khusus (kini Kopassus) TNI AD di Kalimantan Utara. Banyak hal menarik yang ditulis Hendro dalam buku ini (Foto Cover: Kisah ironi operasi militer menumpas gerilyawan Kalimantan Utara, diadopsi dari merdeka.com).
Baca Juga: FANTASTIS...! Inilah Jumlah Santunan DEATH GRATUITIES Untuk Tentara Dan Aparat Yang Gugur Saat Bertugas.
Hendro melukiskan kondisi politik setelah Orde Lama runtuh dan digantikan Orde Baru. Banyak kebijakan yang langsung berubah 180 derajat. Termasuk soal konfrontasi dengan Malaysia. Di era Soekarno, Indonesia jor-joran mendukung perlawanan rakyat Serawak dan Kalimantan Utara memerangi Malaysia dan Inggris.

Pemerintah bahkan melatih komandan Pasukan Gerilya Rakyat Serawak (PGRS) Bong Kee Chok dan adiknya, Bong Hon. Mereka dilatih oleh Badan Pusat Intelijen, RPKAD, Marinir, Pasukan Gerak Tjepat Angkatan Udara dan Mobile Brigade Polri. Seluruh perhatian pemerintah Indonesia tahun 1964-1965 tercurah pada konfrontasi dengan Malaysia.

Pemerintah juga menyuplai senjata untuk Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU). Bahkan sejumlah pasukan elite Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) dikirim sebagai sukarelawan dan bergabung dengan TNKU. Mereka bertempur dengan pasukan komando Inggris di belantara Kalimantan.
Baca Juga: Keberanian Tanpa Tanding...! Biarkan MATAKU Terbuka, Aku Ingin Melihat PELURU Penjajah Menembus Dadaku...!
Tapi saat Presiden Soekarno lengser dan digantikan Presiden Soeharto, kebijakan berubah drastis. Orde Baru yang menuding konfrontasi dengan Malaysia disusupi komunis. Pemerintah Indonesia pun kemudian menghentikan dukungan pada PGRS dan TNKU. Mereka meminta gerilyawan PGRS meletakkan senjata dan menghentikan perlawanan.

"Dari 838 anggota TNKU hanya 99 orang yang taat meletakkan senjatanya dan menyerahkannya pada pos polisi atau pos tentara terdekat. Selebihnya 739 orang membangkang. Jumlah senjata yang tidak dikembalikan sekurang-kurangnya 538 pucuk, terdiri atas bren, stengun, senapan dan pistol. Selain itu ada juga granat-granat tangan buatan Pindad," kata Hendropriyono (hal 64).

Maka ABRI dan Polri dikirim kembali ke Kalimantan Utara, tapi kali ini untuk memerangi para muridnya sendiri yang dulu dilatih untuk berjuang melawan neokolonialisme. Gerilyawan PGRS dan Paraku yang berada di hutan-hutan belum mengetahui hal ini.

Setelah tahu mereka kini harus saling berhadapan, para anggota PGRS, TNKU, ABRI dan Polri itu banyak yang menangis tersedu-sedu dan saling berangkulan sebelum mereka menyatakan perpisahan. Tapi sebagai alat negara, tugas berat itu tetap harus dikerjakan ABRI dan Polri.
Baca Juga: Trenyuh...!! Demi Penuhi HUTANG, Sang Prajurit Rela Melakukan Hal Yang MENGHARUKAN Ini...Aksinya Menjadi VIRAL...!!
"Kenyataan bahwa politik kerap kali membuat alat negara melaksanakan tugas dengan beban mental yang sangat berat. Perubahan haluan politik ini sangat menyakitkan, sehingga rasa kemanusiaan mereka hanyut dalam arus kekecewaan yang sangat dalam," beber Hendro.

PGRS adalah murid para prajurit ABRI. Berjuang bersama melawan Inggris di Kalimantan Utara dan Serawak. Kini guru harus membunuh anak-anak murid sendiri. PGRS harus melawan gurunya sendiri yang sangat dihormati dan dicintai. Itu semua karena perubahan haluan politik Indonesia yang berdamai dengan Malaysia.

Maka walau pahit, guru dan murid saling berhadapan di rimba Kalimantan. Tak mudah memerangi PGRS yang sangat mengenal baik medan gerilya dan mendapat dukungan masyarakat. ABRI melatih mereka dengan baik sehingga pasukan PGRS paham intelijen, konsep gerilya, hingga menyerang dengan senyap dan terkoordinasi.
Baca Juga: Aksi Heroik Dan Menegangkan..! Duel Maut Sampai Mati: Satu Lawan Satu Kopassus vs Gerilyawan PGRS
Tahun 1967 PGRS pimpinan Lim Fo Kui alias Lin Yen Hoa dan Bong Khe Chok mengadakan pertemuan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) di bawah pimpinan S.A Sofyan dam Tan Bu Hiap di Bukit Bara, sebelah Timur Sambas, Kalimantan Barat. Mereka membentuk suatu koalisi perjuangan yang dinamakan BaRA atau Barisan Rakyat. Salah satu poin kesepakatan, PGRS akan mendirikan negara komunis Serawak yang merdeka. Suatu pasukan baru bernama Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku) didirikan.

Ketangguhan PGRS/Paraku terbukti saat mereka menyerang Pangkalan Singkawang II Angkatan Udara RI di Sangau Ledo. Operasi ini berjalan sangat baik. Mereka berhasil merampas 153 pucuk senjata AURI dari berbagai jenis. Serangan direncanakan dengan baik, terkoordinasi dan rapi. Mereka mempraktikkan apa yang diajarkan ABRI pada mereka.

"Ini merupakan suatu hal yang hanya lazim dapat dilakukan oleh pasukan komando regular yang terlatih sangat baik. Tidak seperti oleh pasukan gerilya yang tidak teratur," puji Hendro.
Baca Juga: WOW...! Karena INDONESIA, Amerika KALAH Perang di Vietnam. Ternyata Ini RAHASIANYA...!
Pemerintah Indonesia pun terkejut atas keberhasilan tersebut. Sebagai balasan, Mabes ABRI menggelar Operasi Bersih II. Pasukan Kodam XII Tanjungpura kini diperkuat satuan Puspassus TNI AD.

Peperangan guru melawan murid pun berkobar. Pedih, tapi harus dilakukan.

Sumber: merdeka.com

Thursday, March 2, 2017

Inilah 5 Fakta Sosok MENGERIKAN Di Belakang RAJA ARAB...! Lebih Hebat Mana Dibanding PASUKAN KHUSUS Indonesia?


Patriot NKRI - Sosok itu adalah seorang pria gundul, berbadan tinggi tegap, memakai setelan jas rapi, dan punya sorot mata yang tajam. 

Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz al-Saud akan berkunjung ke Indonesia pada 1-9 Maret 2017. Rencananya, dalam kunjungannya ke Indonesia, Ia akan membawa 1.500 anggota delegasi, termasuk 10 menteri dan 25 pangeran.
Baca Juga: Kisah Anak Buah Melihat Soeharto Bak KEBAL PELURU Saat Perang.
Tapi, satu sosok yang pasti akan masuk foto para wartawan, justru bukanlah pangeran maupun kerabat sang raja. Sosok itu adalah seorang pria gundul, berbadan tinggi tegap, memakai setelan jas rapi, dan punya sorot mata yang tajam.

Siapa dia?

Ya, pria gundul itu adalah Brigadir Jenderal Abdul Aziz Al-Faghm. Dia merupakan jebolan kesatuan pasukan elit Arab Saudi. Penulis sekaligus pakar perang dan militer, Thomas Wictor, menulis, Abdul Aziz Al-Faghm merupakan satu dari sedikit tentara di Saudi yang punya kualifikasi komplet.

Berikut 5 fakta menarik soal Brigjen Al-Faghm :

1. Skill Komplet, Mulai Pilot Sampai Penjinak Bom

Berbagai badge (tanda lulus pendidikan militer) yang telah dimilikinya antara lain badge Pasukan Khusus, serta badge Pasukan Rahasia Anti-Terorisme Saudi.

Selain badge itu, Abdul Aziz Al-Faghm punya badge pelatihan terjun payung dari sejumlah pasukan elit Amerika Serikat, yakni US Army Master Parachutist jump wings dan US Navy Master Parachutist jump wings.
Baca juga: Bak PASUKAN HANTU, Pasukan JANUR KUNING Muncul Dari Dalam Tanah...MERAYAP MENYERGAP Belanda Yang Masih Terlelap...!!
Tak hanya piawai soal bertempur di darat, Abdul Aziz Al-Faghm juga bisa menerbangkan pesawat maupun helikopter dalam kondisi darurat. Hal itu ditunjukkan dari badge Saudi Air Force pilot’s wings yang ia miliki.

Lalu, badge Saudi Combat Diver, merupakan bukti bahwa menyelam di laut, adalah kemampuan yang mudah saja baginya.
Ia bahkan dikenal punya kemampuan menjinakkan bahan peledak, dari badge penjinak bom yang dimilikinya. Semua badge itu dimiliki oleh Abdul Aziz Al-Faghm melalui pelatihan selama lebih dari 10 tahun.

2. Tua Hanya Usianya

Sebagai seorang tentara berpangkat brigadir jenderal, Abdul Aziz Al-Faghm diyakini telah berusia sekitar 50 tahun. Tapi, penampakan fisiknya seringkali membuat orang kagum. Fisik tubuhnya masih tegap, kekar, dan terjaga.

Menurut Thomas Wictor, kekuatan fisiknya bahkan disebut-sebut masih bisa menandingi seorang tentara di usia 20 tahunan. Lihat saja fotonya saat mengawal Raja Salman di Malaysia, 27 Februari 2017. Ia masih terlihat bak aktor film laga, ketimbang seorang perwira tentara berusia 50 tahunan.

3. Bukan Hanya Ahli Teori

Brigjen Abdul Aziz Al-Faghm lulus dalam banyak pelatihan militer. Apakah dia hanya ahli teori saja? Tidak. Dia telah mendapat penghargaan Order of Bravery, sebuah penghargaan tertinggi untuk para prajurit tangguh di Saudi, tidak hanya sekali, tapi beberapa kali.
Baca juga: 3 MENIT paling MENEGANGKAN...! Inilah Aksi HEROIK Kopassus Yang Membuat Dunia Terperangah..!
Asal tahu saja, menurut Thomas Wictor, untuk meraih penghargaan ini, seseorang harus ikut dalam perang fisik atau terjun sebagai prajurit kombatan. Dengan melihat fotonya saat berada di sisi Raja Salman, Thomas Wictor memuji Brigjen Abdul Aziz Al-Faghm sebagai orang yang sangat teliti dan disiplin dalam melindungi raja.

Hal itu terlihat dalam posisi tangannya ketika berjalan melindungi Raja Salman. Posisi tangan itu menandakan ia selalu dalam posisi siaga.

4. Kesetiaan Tak Diragukan

Apakah skill komplet adalah satu-satunya alasan mengapa Raja memilihnya sebagai pengawal pribadi? Bukan. Ada lagi alasan lain yang diyakini membuat Raja Salman susah berpaling darinya. 

Hal itu adalah kesetiaan alias loyalitas. Brigjen Abdul Aziz Al-Faghm telah menjadi pengawal raja selama lebih dari 10 tahun. Itu artinya, sebelum mengawal Raja Salman, dia juga mengawal Raja Arab Saudi sebelumnya, yakni Raja Abdullah bin Abdulaziz Al Saud, yang mangkat pada 23 Januari 2015.
Baca juga: Kisah JAGAL Belanda Pembantai TNI dan 40 Ribu Rakyat Indonesia. KEJAM dan BIADAB...!
Saat Raja Abdullah mangkat dan dimakamkan, Al-Faghm menjadi pengawal terdepan iring-iringan penggotong jenazah Raja Abdullah. Saat itu, fotonya mengawal iring-iringan jenazah menjadi viral. Banyak warga Arab Saudi menaruh haru kepadanya.

Pasalnya, ia harus sebisa mungkin menjaga emosi di momen itu. Banyak yang meyakini ia terpukul dengan kematian Raja Abdullah. Tapi, dia tetap tegar tak menangis di pemakaman itu.

5. Titisan Sang Ayah

Al-Faghm lulus dari akademi militer King Khaled Military College di tahun 1991. Dia lalu lolos masuk ke unit pasukan khusus Arab Saudi, sebelum akhirnya terpilih masuk ke Royal Guard, atau pasukan khusus kerajaan.
Baca Juga: MANTAP JIWA...! Inilah Deretan Senjata-Senjata LEGENDARIS KOPASSUS. [Nomor 5 Sangat SPESIAL] Kamu Wajib Tahu...!
Hanya orang-orang terpilih yang dipercaya masuk ke kesatuan ini. Yang menarik, ayah dari Al-Faghm, ternyata juga menjadi abdi Raja Arab Saudi sebelumnya, selama 30 tahun.

Sumber: tribunnews.com

MANTAP JIWA...! Komandan Kopassus Pilih Bawa - INI - Daripada 100 PELURU Saat Perang


Patriot NKRI - Setiap orang menerima 750 butir peluru kaliber 7,62 mm. Mereka juga membawa dua buah granat, ransum tempur untuk tiga hari. Para personel juga membawa ransel berisi baju loreng, baju kaos, sepatu lapangan dan topi rimba (Foto Cover: Pasukan Kopassus).

Para veteran Kopassus memperingati 40 tahun penerjunan Dili 7 Desember 1975. Tak cuma heroik, banyak kisah menarik dalam misi penyerbuan lintas udara terbesar di Asia Tenggara tersebut.
Baca Juga: Menyedihkan...! Merebus Sepatu Lars Untuk Dimakan. Cara Prajurit Bertahan Hidup Di Belantara Hutan
Salah satunya adalah cerita Komandan Nanggala V/Kopasandha Letkol Inf Soegito. Soegito dan pasukannya ditugaskan untuk merebut tiga sasaran penting: Bandara Dili, pelabuhan dan pusat pemerintahan. 

Pasukan Kopasandha (kini Kopassus) dilengkap dengan parasut utama T-10 dan senapan serbu AK-47. Setiap orang menerima 750 butir peluru kaliber 7,62 mm. Mereka juga membawa dua buah granat, ransum tempur untuk tiga hari. Para personel juga membawa ransel berisi baju loreng, baju kaos, sepatu lapangan dan topi rimba. 

Letkol Soegito membawa senapan AK-47 dengan popor lipat. Dia sempat ditawari untuk membawa Uzi, namun ditolak. Alasannya Soegito tak familiar dengan senjata buatan Israel itu.
Baca Juga: Mengerikan...! NRS-2, Pisau Komando Unik Yang Memiliki Kemampuan Rahasia.
"Karena perokok berat, Soegito memilih meninggalkan 100 butir peluru dan menggantinya dengan empat slof rokok!" demikian ditulis dalam buku Hari H 7 Desember 1975, Reuni 40 Tahun Operasi Lintas Udara di Dili, Timor Portugis yang disunting Atmadji Sumarkidjo.

Dalam buku terbitan Kata Penerbit ini dituliskan Kopasandha merupakan pasukan Stoottroepen atau pasukan pemukul yang hanya bertugas merebut sejumlah sasaran penting. Karena itu tak ada bantuan senjata berat. Setiap regu hanya dilengkapi senapan mesin dan mortir untuk bantuan tembakan.

Lalu bagaimana kalau ternyata pertempuran di Dili berlangsung lebih dari tiga hari?

Mayjen Benny Moerdani hanya berucap dengan dingin. "Makanan, air, senjata dan peluru ada pada musuh. Rebut dari mereka!"
Baca Juga: Mengingat Pertempuran Sengit & Berdarah Kopassus Vs Tropaz, Pasukan "Bengis" Didikan Portugal.
Pagi hari 7 Desember 1975, pasukan Nanggala diterjunkan di atas Dili. Sejak terjun mereka sudah ditembaki dari bawah. Lewat pertempuran sengit, kota Dili jatuh ke tangan pasukan Indonesia. Namun 19 prajurit terbaik Korps Baret Merah itu gugur dalam tembak menembak.

Note: Kebiasaan merokoknya jangan ditiru ya, tirulah sifat dan sikap patriotismenya.

Sumber: merdeka.com