Friday, December 23, 2016

Mengingat Pertempuran Sengit & Berdarah Kopassus Vs Tropaz, Pasukan "Bengis" Didikan Portugal.


Patriot NKRI -  Tropaz adalah pasukan Timor Leste didikan Portugis yang kenyang dengan pengalaman tempur gerilya. Mereka diterjunkan untuk menumpas pemberontakan di daerah jajahan Portugis seperti Angola dan Mozambik. Mereka juga kemampuan menembak yang sangat baik. 

7 Desember 1975, TNI menggelar operasi lintas udara terbesar untuk menguasai Kota Dili, Timor Portugal. Jumlah pasukan yang diterjunkan 270 orang Prajurit Para Komando dari Grup I Kopasandha (kini Kopassus TNI AD) dan 285 prajurit Yonif 501.

Banyak kelemahan dari operasi penyerbuan itu. Antara lain data intelijen yang salah. Disebutkan musuh yang menjaga Kota Dili hanya sekelas dengan Hansip. Ini salah besar. 

Demikian ditulis dalam buku Hari H 7 Desember 1975, Reuni 40 Tahun Operasi Lintas Udara di Dili, Timor Portugis yang disunting Atmadji Sumarkidjo dan diterbitkan Kata.
Pasukan TNI sudah ditembaki sejak masih melayang di udara. Pilot TNI AU terpaksa membatalkan sejumlah penerjunan karena pesawat diberondong tembakan dari bawah. Seorang load master di dalam C-13o Hercules tewas tertembak. Akibatnya 72 prajurit Kopassus batal diterjunkan.

Para prajurit yang terjun tak bisa membalas tembakan. Senapan AK-47 mereka masih terikat di paha. Begitu mendarat mereka langsung mencari kelompoknya dan terlibat dalam pertempuran sengit. Beberapa prajurit baret merah tersungkur ditembus peluru Tropaz. 

Sementara itu, Komandan Nanggala V/Kopasandha Letkol Inf Soegito berlindung di balik tembok. Ternyata di balik tembok itu terlihat beberapa orang Tropaz sedang menembak bertubi-tubi ke arah pasukan yang baru mendarat. 

Soegito melemparkan granat ke dalam ruangan. Namun apes, granat itu tak meledak.

Dia mencabut granat kedua. "Blaaaar!!" ledakan keras terdengar hingga dinding bergetar.

Beberapa orang yang terluka berhamburan keluar. Tanpa ba-bi-bu, Soegitu menarik picu senapan otomatisnya. Rentetan peluru kaliber 7,62 mm segera menyiram dan menghabisi orang-orang berseragam hijau itu.

Dili dipenuhi suara tembak menembak hari itu. Senapan serbu AK-47 milik Kopasandha versus senapan G3 standar NATO milik Tropaz dan Fretilin.
Siang harinya, pasukan baret merah itu berhasil menguasai Pelabuhan. Letkol Soegito menggunakan sebuah bangunan yang belum jadi untuk markas Grup. Dia mulai bisa mengontak pasukannya yang berceceran. 

Di sinilah Soegito menerima kabar Mayor Inf Muji Raharjo tertembak di bagian leher. Lukanya sangat parah. Namun ajaib, nyawanya masih bisa tertolong. Dia bisa sembuh karena peluru tidak merobek syarafnya.

Kota Dili bisa direbut hari itu juga. Pasukan Tropaz dan Fretilin mundur ke gunung untuk meneruskan perang Gerilya. Kemenangan yang harus dibayar mahal dengan gugurnya 19 anggota Kopasandha dan 35 prajurit Yonif Linud 501.

Sementara dari pihak musuh sedikit simpang siur. Ada yang menyebut 122 orang Pasukan Tropaz tewas, ada juga yang mencatat 105 orang. Selain itu puluhan pucuk senjata G-3 juga berhasil direbut.
Sumber: merdeka.com

[Video] Saktinya Prajurit TNI, Sampai Bikin Tentara Negara Asing Melongo...


Patriot NKRI - Para prajurit TNI yang tergabung dalam kontingen Garuda di Lebanon membuat tentara negara lain geleng-geleng kepala tak percaya. Dalam satu pertunjukan, mereka mendemonstrasikan aneka kemampuan mengolah rasa dan tenaga dalam.

Anggota Pasukan Garuda mematahkan benda-benda keras. Diawali dengan pematahan gagang pompa lalu mematahkan beton dengan satu tangan, dan diakhiri pematahan kikir dengan satu jari. Inilah kemampuan bela diri Merpati Putih yang dikuasai Prajurit TNI.
Penonton dibuat berdecak kagum dan setengah tidak percaya melihat kikir dari besi bisa dipatahkan hanya dengan satu jari. Sebagian orang asing ada yang berpendapat bahwa beladiri TNI itu menggunakan magic atau mantra. 

Silat dengan tenaga dalam bukan hal baru bagi prajurit TNI. Sejak tahun 1977, para prajurit Kopassus sudah mempelajari Merpati Putih.

Tak cuma mematahkan aneka benda keras seperti mengiris kertas, mereka juga mengasah indra keenam dengan mata tertutup. Mulai menembak sasaran, membaca tulisan, hingga mengendarai sepeda motor dengan mata tertutup.

"Dengan kemampuan yang dimilikinya maka prajurit selalu siap sewaktu-waktu digerakkan untuk melaksanakan operasi khusus baik Operasi Komando, Operasi Sandhi Yudha maupun antiteror," kata Komandan Kopassus saat itu Mayjen TNI Agus Sutomo.
TNI juga punya prajurit yang disebut paling kuat. Kopral Bagyo namanya. Aksi-aksinya bikin kagum. Dari jungkir balik 24 jam, hingga memecahkan aneka rekor MURI.

Kopral Bagyo juga jagoan. Dihajar satu kompi, tak bergeming. Rasanya seperti menonjok besi saat kepalan tangan mengenai tubuhnya. Yang memukul malah sakit, sementara kopral Bagyo anteng-anteng saja.

Kini terbaru, aksi dua perwira TNI pamer ilmu kanuragan bikin kagum. Saat mau ditusuk dari belakang, malah lawannya kaku tak bisa bergerak seperti patung.

Berkali-kali dicoba hasinya seperti itu. Setelah mengucap Bismillah dan ditepuk, baru orang itu bisa normal.

Kalau saat perang ilmu seperti ini bisa digunakan tentu akan sangat menarik. 

Yuk lihat videonya:


Sumber: Youtube | Merdeka.com

Kopassus Vs Pasukan Elite Australia SASR, Mana Yang Lebih Unggul Kemampuannya?


Patriot NKRI - Tidak bisa sembarangan untuk mendapatkan baret merah Kopassus dan brevet komando kebanggaan korps tersebut. Para prajurit harus melewati pelatihan khusus yang nyaris melewati kemampuan batas manusia.

Komandan Operasi Khusus Australia (Socaust) Mayor Jenderal Jeff Sengelman memuji kemampuan prajurit Komando Pasukan Khusus (Kopassus) setinggi langit. Bagi Jeff, Kopassus masih merupakan salah satu satuan militer terbaik di dunia. 
Pengakuan itu diungkap langsung oleh Jeff di sela-sela Latihan Bersama Dawn Komodo antara Kopassus dan Special Air Service Regiment (SASR) Australia. Pujian itu tidak keluar begitu saja, Jeff sebelumnya sempat menyaksikan demonstrasi yang dilakukan para prajurit Sat-81 Kopassus.

Apa perbedaan dari kedua pasukan ini?

Kopassus 

Tidak bisa sembarangan untuk mendapatkan baret merah Kopassus dan brevet komando kebanggaan korps tersebut. Para prajurit harus melewati pelatihan khusus yang nyaris melewati kemampuan batas manusia.


Tahap pertama yaitu pemusatan pelatihan di Pusat Pendidikan Pelatihan Khusus, Batujajar, Bandung. Di sini para calon prajurit komando dilatih keterampilan dasar seperti menembak, teknik dan taktik tempur, operasi raid, perebutan cepat, serangan unit komando, navigasi darat dan berbagai keterampilan lain.

Kemudian dilanjutkan Tahap Hutan Gunung yang diadakan di Citatah, Bandung. Di sini para calon prajurit komando berlatih untuk menjadi pendaki serbu, penjejakan, anti penjejakan, survival di tengah hutan.
Dalam Pelatihan Survival para calon Prajurit komando harus bisa hidup di hutan dengan makanan alami yang tersedia di hutan. Tahap latihan hutan gunung diakhiri dengan long march dari Situ lembang ke Cilacap dengan membawa amunisi, tambang peluncur, senjata dan perlengkapan perorangan.

Latihan terberat sudah menanti saat sampai di Cilacap. ini adalah latihan tahap ketiga yang disebut latihan Tahap Rawa Laut, calon prajurit komando berinfliltrasi melalui rawa laut.

Di sini materi Latihan meliputi navigasi Laut, Survival laut, Pelolosan, Renang ponco dan pendaratan menggunakan perahu karet. Para calon prajurit komando harus mampu berenang melintasi selat dari Cilacap ke Nusakambangan.


Dalam latihan itu para calon prajurit komando dilepas pagi hari tanpa bekal, dan paling lambat pukul 10 malam sudah harus sampai di suatu titik tertentu. Selama "pelolosan" si calon harus menghindari segala rintangan alam maupun tembakan dari musuh yang mengejar.
Dalam pelolosan itu, kalau siswa sampai tertangkap maka itu berarti neraka baginya karena dia akan diinterogasi layaknya dalam perang. Para pelatih yang berperan sebagai musuh akan menyiksa prajurit malang itu untuk mendapatkan informasi.

Dalam kondisi seperti itu, si prajurit harus mampu mengatasi penderitaan, tidak boleh membocorkan informasi yang dimilikinya. Untuk siswa yang tidak tertangkap bukan berarti mereka lolos dari neraka. Pada akhirnya, mereka pun harus kembali ke kamp untuk menjalani siksaan.

SASR

Tak jauh berbeda dengan Kopassus, SASR juga menerapkan standar tinggi bagi para calon prajuritnya, dan menjadi satuan yang paling diminati di Angkatan Darat Australia. Sebagai anggota, para prajurit harus bisa bekerja dalam tim kecil untuk jangka panjang dan tanpa dukungan apapun, dan kebanyakan yang terpilih adalah mereka yang mampu menjalankan tugas tersebut, di samping kemampuan individunya.


Semua pasukan reguler diberikan kesempatan yang sama untuk mendaftar. Setelah melakukan skrining, setiap kandidat harus melalui 'Test Batas Pasukan Khusus', yang berati mengukur kemampuan fisik mereka. Hanya 80 sampai 85 persen yang lolos dari tes ini.

Kandidat yang lolos kemudian wajib mengikuti kursus seleksi selama 21 haru, yang akan mengukur kekuatan dan daya tahan seseorang, baik mental maupun fisik, mampu bersikap tenang dalam pertempuran dan efektif dalam tim kecil. Hasilnya, hanya 25 sampai 30 persen yang berhasil lolos dari tes tersebut.


Baru setelah itu mereka menjalani pelatihan sebenarnya selama 18 bulan. Di situ mereka akan menjalani berbagai macam pertempuran, baik jarak pendek maupun jauh, patroli, terjun patung, ketahanan di tengah perang, penerima sinyal atau medis, senjata berat, penghancuran dan berbagai pelatihan berat lainnya. Semua itu wajib dijalankan sebelum ditempatkan ke dalam skadron.
Dengan latihan itu, anggota SASR tak hanya berkualifikasi terjun payung, setiap tim patroli setidaknya memiliki satu spesialisasi seperti medis, penghubung, ahli peledak dan penerjemah. Satu dari tiga skadron sabre setidaknya menjalani tiga tahun pelatihan dan terjun medan operasi.

Di tahun pertama, setiap kandidat diberikan kebebasan untuk mengembangkan kemampuan dan berlatih teknik baru yang diinginkannya, dan itu diawasi oleh anggota yang terlatih. Pada tahun kedua, skill akan ditingkatkan dengan perang konvensional dan tahun berikutnya menjalani berlatih menjalankan tugas kladestin.

Mereka juga menjalani pelatihan penanggulangan terorisme, di antaranya pertarungan jarak dekat, mematikan bahan peledak, serangan tubular dan gedung bertingkat. SASR juga berafiliasi langsung dengan Amerika Serikat, Inggris Raya serta Selandia Baru, yang beberapa kali menggelar latihan bersama dan pertukaran prajurit.

Jadi, mana yang menurutmu lebih unggul?

Baca Juga:

Sumber: merdeka.com

Kisah Heroik Dan Mengharukan Sertu SUPARLAN, Sang LONE SURVIVOR, RAMBO Sebenarnya. Bertempur Seorang Diri Sampai Mati.


Patriot NKRI - Kisah heroik prajurit Kopassus bertempur seorang diri bak Film Lone Survivor. Dia adalah Pratu Suparlan, Prajurit Kopasandha yang bertempur sendiri sampai gugur. Orang boleh bercerita tentang kehebatakan Pasukan Gurkha dengan dibumbu bumbui seolah olah mereka adalah yang terhebat dan heroik dengan Pisau Kukriknya, Tapi Suparlan hanya bertarung hingga gugur dengan Pisau Komando ditangannya.

Suparlan adalah prajurit Kopassus yang gugur tahun 1980. Prajurit hebat ini mengorbankan dirinya sendiri demi menyelamatkan regu Kopassus dan Kostrad dari pembantaian Fretilin.
Baca Juga: [Video] Saktinya Prajurit TNI, Sampai Bikin Tentara Negara Asing Melongo
1 Unit gabungan berjumlah 9 orang (4 pers Kopassus dan 5 Personel Kostrad ) di pimpin oleh Letnan Poniman Dasuki (terakhir berpangkat Brigjen) speed 2 adalah Prada Tamsil (pangkat terakhir Peltu sudah Purnawirawan) melaksanakan Patroli di Zona Z Pedalam Timor daerah ini adalah daerah yang sangat Rawan, Masih ada tokoh tokoh seperti Lobato, Lere, David, Xanana belum muncul. saat melaksanakan Patroli tersebut mereka bertemu dengan Markas Fretelin dengan kekuatan -+ 300 orang memiliki senjata yang sangat lengkap (Senapan Serbu, Mortir dan GLM). Pasukan Fretelin ini adalah sayap militer terlatih Timor Timur yg berpengalaman perang di angola, mozambik, dll. dan dilatih oleh Pasukan Tropaz Portugal.


Pada awalnya Tim Kopassus Kostrad ini ingin menyergap Pos Pengamatan Fretelin, setelah melumpuhkan Pos Pengematan Fretelin, tiba tiba dari berbagai arah muncul Pasukan Fretelin yang lebih besar, terjadi pertempuran yang tidak berimbang 1 unit digunting dari berbagai arah, dari atas ketinggian. yang roboh pertama kali adalah personel dari Kostrad yang membawa senapan Mesin disusul oleh 3 orang berikutnya karena mereka berada di formasi paling belakang. 5 orang dari sisa unit ini terdesak hingga ke bibir Jurang sambil mereka mencari jalan pelolosan dari pihak fretelin pun jatuh korbang 8 orang, dalam keadaan terdesak dan demikian genting pasukan TNI mengadakan perlawanan sengit, tapi karena kalah jumlah dan posisi tdak menguntungkan, Unit ini mundur selangkah demi selangkah menghampiri bibir jurang, hanya ada satu celah untuk meloloskan diri, akan tetapi dibutuhkan waktu yang cepat untuk melintas sebelum pasukan Fretelin menutup celah bukit tersebut.

Kemudian Komandan Unit memerintahkan sisa unit menuju ke celah tersebut, dan Pratu Suparlan paling depan, bukannya mendengarkan perintah, Pratu suparlan mundur kebelakang tanpa mengindahkan perintah Dan Unitnya. "Komandan Bawa mereka, Saya akan menghambat mereka Komandan"
Disinilah Praka Suparlan menunjukkan sifat kepahlawanannya, antara kehormatannya sebagai laki-laki, Prajurit, Korps dan negaranya, Tanpa menghiraukan peringatan Komandan Unitnya agar mundur. Pratu Suparlan membuang senjatanya dan mengambil senapan mesin milik rekannya yang gugur. Pratu Suparlan berlari kearah datangnya fretelin dan menyambutnya dengan siraman Senapan Mesin... Jatuh bangun terkena tembakan di tubuhnya Suparlan mengamuk seperti Banteng (Kata saksi fretelin yang tertangkap), mengejar mereka hingga ke semak persembunyian fretelin tidak terhitung berapa peluru yang sudah bersarang di Badannya, Pakaian Loreng Pratu Suparlan berubah warna menjadi Merah karena Darah yang mengalir ditubuhnya, Pratu Suparlan menyerang hingga munisinya Habis, kondisi Pratu Suparlan sudah mulai Lemas karena kekurangan darah, Pratu Suparlan mencabut Pisau Komando dan bertarung satu lawan satu, sepertinya Pihak fretelin berniat mempermainkan Pratu Suparlan dengan tidak membunuhnya secara langsung, suparlan betarung dengan Pisaunya merobohkan 6 orang Fretelin, hingga tanggannya tidak mampu lagi menggenggam Pisau Komandonya

Komanda Unit dengan sisa pasukannya melihat Pratu Suparlan tidak muncul, memutuskan untuk kembali mencari Pratu Suparlan dan membantu Pratu Suparlan.

Pratu Suparlan sendiri-dikelilingi oleh Ratusan Pasukan Fretelin menunggu Bala Tentara Izrail mencabut nyawanya. Pratu Suparlan adalah Prajurit yang cerdas, taktik dia melemahkan dirinya sangat tepat, saat dia terduduk, pasukan Fretelin berkerumun mendekatinya tepat disaat 1 tembakan mengenai lehernya, Suparlan hampir Roboh, Pratu Suparlan mengumpulkan sisa tenaganya mengambil 2 butir Granat di kantongnya, Pratu Suparlan mencabut Pin Granat, Dengan sigap...dan didahului lengkingan Allahuakbar !!!....digenggaman tanganx yg berisi 2 buah granat.....berlari serta meloncat berjibaku pas ditengah2 rimbunan Fretelin yang mengepungnya .....granat meledak....disertai gugurnya seorang prajurit pemberani dengan membawa bersama sejumlah musuh.

Melihat gugurnya Pratu Suparlan, sisa Unit 5 orang yang sudah menguasai ketinggian, menyerang dan menembak kerumunan Fretelin dari ketinggian dengan bertubi-tubi. 3 orangpun gugur demikian juga dengan Pihak Fretelin, puluhan merenggang Nyawa, Pada saat itu Bala Bantuanpun Tiba ( Gabungan Kostrad dan Brimob ) membantu memukul mundur Fretelin kembali ke posisi markas mereka, pertempuran ini berlangsung hingga malam dan pertempuran pun terhenti.
Mayat bergelimpangan di mana-mana termasuk 7 orang Unit Pratu Suparlan, dari 9 orang, yang hidup hanya 2 orang yaitu Dan Unit dan Pratu Tamsil, jenazah jenazah itu dikumpulkan, termasuk Jenazah Pratu Suparlan yang sudah tidak utuh. Sedangkan dari Pihak Fretelin mereka kehilangan 83 orang milisinya alias tewas. Beberapa diantaranya ditangkap hidup hidup. Saat diinterogasi, anggota Fretelin ini hanya menceritakan bagaimana Pratu Suparlan bertempur sendiri sampai gugur.


KAMI TIDAK AKAN MENINGGALKAN REKAN KAMI WALAUPUN DALAM KEADAAN MATI

Pemerintah juga menganugerahkan Bintang Sakti pada Kopda Suparlan melalui Keppres No 20/TK/TH.1987. Korps Baret Merah mengabadikan namanya menjadi Lapangan Udara Perintis di Batujajar, Jawa Barat.

Rupanya tak cuma pemerintah Indonesia yang menghargai keberanian Suparlan. Komandan Fretilin juga mengirimkan surat pada pasukan Kopasandha. Walau musuh, mereka memuji keberanian dan perlawanan hebat yang diberikan Prajurit Suparlan. Dalam perang, jarang penghormatan seperti ini terjadi. Kecuali untuk para prajurit yang menunjukkan keberanian luar biasa.

Oleh Karena heroiknya, Negara menganugerahkan kenaikan Pangkat kepada 7 orang Unit Suparlan yang Gugur dengan Kenaikan Pangkat satu Tingkat menjadi Prajurit Kepala, dan oleh Prabowo Subianto namanya diabadikan menjadi Nama Landasan Pacu di Pusdik Passus Batu Jajar menjadi "LANDASAN SUPARLAN"

"Yaaa... Allah, tempatkanlah Almarhum Bapak Suparlan dan mereka yang telah gugur dijalan-Mu dibarisan para Syahid dan di Surga Engkau, aamiin YRA..."

Silahkan dishare

Sumber: merdeka.com | patriotnegeri.blogspot.com

Wednesday, December 21, 2016

Sholat Di Medan Perang Sambil Kokang Senjata, Tentara-Tentara Ini Getarkan Netizen..!!. Kamu Harus Lihat Ini..!!


Patriot NKRI - Baru-baru ini, sebuah video tentara sholat di medan perang berjudul 'Sholat Medan: Modul Usfan' memperlihatkan sejumlah tentara yang sedang menjalankan salat di dalam hutan. Video ini menjadi viral di situs jejaring sosial Facebook.



Walaupun bukan dalam kondisi perang nyata seperti digambarkan, video berdurasi 3 menit 31 detik ini memberikan tutorial mengenai tata cara mengerjakan salat saat berada di medan perang.

Melibatkan para pemeran tentara asli, Video yang diunggah oleh Telaga Biru Channel, pada 5 Januari 2016 itu telah dibagikan sebanyak 44 ribu kali dan ditonton lebih dari 1,1 juta orang.

Penasaran seperti apa? simak videonya
Sumber: youtube | dream.co.id

Video Tentara Sholat Dimedan Perang, Getarkan Netizen..!!. Kamu Harus Lihat Ini..!


Patriot NKRI - Baru-baru ini, sebuah video tentara sholat di medan perang berjudul 'Salat Medan: Modul Usfan' memperlihatkan sejumlah tentara yang sedang menjalankan salat di dalam hutan. Video ini menjadi viral di situs jejaring sosial Facebook.


Walaupun bukan dalam kondisi perang nyata seperti digambarkan, video berdurasi 3 menit 31 detik ini memberikan tutorial mengenai tata cara mengerjakan salat saat berada di medan perang.

Melibatkan para pemeran tentara asli, Video yang diunggah oleh Telaga Biru Channel, pada 5 Januari 2016 itu telah dibagikan sebanyak 44 ribu kali dan ditonton lebih dari 1,1 juta orang.

Penasaran seperti apa? simak videonya

Sumber: youtube | dream.co.id

Tuesday, December 20, 2016

Mengharukan..! Ketika Linangan Air Mata Bung Karno Iringi Tanda Tangan Vonis Mati Untuk Sang Sahabat Karib


Patriot NKRI - Kepedihan semakin terasa, ketika hari itu juga Presiden Soekarno harus menggoreskan tanda tangan yang artinya akhir dari hidup sahabat karibnya. Ia pandangi kembali selembar foto sahabatnya, tak terasa linangan air mata menetes dari kedua mata Bung Karno.

Kartusuwiryo menjelang eksekusi mati
Perseteruan kawan sekaligus sahabat yang kemudian menjadi lawan antara Soekarno dan Kartosuwiryo bukanlah sekedar kisah sejarah yang berdiri sendiri, melainkan sebuah mata rantai yang masih aktual hingga saat ini.

Kartosuwiryo, kawan yang menjadi lawan tangguh Soekarno membuktikan, dengan semangat dan jiwa militan, ia bahkan bisa melebarkan gerakan dan pengaruhnya hingga ke sebagian Pulau Jawa, Aceh, dan Sulawesi Selatan.

Meski keduanya merupakan murid dari sang guru HOS Cokroaminoto, namun pada akhirnya Soekarno dan Kartosuwiryo menempuh keyakinan ideologi masing-masing. Bersama mengambil langkah politik, keduanya menjadi rival dan ideologi bagi Soekarno.
Tidak hanya berhenti soal ideologi, bibit perseteruan juga mulai mengarah kepada konflik terbuka. Kala itu, Kartosuwiryo yang memimpin laskar seperti Hisbullah-Sabilillah dan Barisan Bambu Runcing di wilayah Jawa Barat, menolak ikut hijah ke wilayah Republik.

Bersama para laskar yang dipimpinnya, Kartosuwiryo bersikeras memilih untuk tetap melakukan perlawanan terhadap Belanda di wilayah Jawa Barat. 

Saat Soekarno - Hatta ditangkap di Yogyakarta pada Agresi Militer II, Kartosoewiryo menganggap bahwa negara Indonesia telah kalah dan bubar. Ia juga memaklumatkan perang terhadap Bung Karno (sebagai pemerintahan yang sah) dan mendirikan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII).

"Di tahun 1918 ia adalah seorang sahabatku yang baik. Kami bekerja bahu membahu bersama Pak Tjokro demi kejayaan Tanah Air. Di tahun 20-an di Bandung kami tinggal bersama, makan bersama dan bermimpi bersama-sama. Tetapi ketika aku bergerak dengan landasan kebangsaan, dia berjuang semata-mata menurut azas agama Islam," kata Soekarno dalam buku 'Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat' Karya Cindy Adams, Terbitan Media Pressido.

Perbedaan ideologi antara Soekarno dan Kartosoewirjo itu mengakibatkan keduanya berseberangan dan mengambil jalan masing-masing. Bahkan, Kartosoewirjo berusaha menumbangkan Soekarno dengan Pancasilanya.

Pada 7 Agustus 1949, Kartosoewirjo memproklamasikan Negara Islam Indonesia (NII) di Tasikmalaya. Dengan militansi yang dimilikinya, Kartosoewirjo melebarkan gerakan dan pengaruhnya hingga ke sebagian Pulau Jawa, Aceh, dan Sulawesi Selatan.

Saat itu, ia dengan DI/TII nya memilih hutan-hutan di pegunungan Jawa Barat sebagai basis perjuangan melawan pemerintahan Bung Karno. Sejumlah percobaan pembunuhan kepada Bung Karno pun dilakukan.

"Bunuh Soekarno. Dialah penghalang pembentukan negara Islam. Soekarno menyatakan bahwa Tuhannya orang Islam bukan hanya Tuhan. Soekarno bekerja menentang kita. Soekarno menyatakan bahwa Indonesia harus berdasarkan Pancasila, bukan Islam. Sebagai jawaban atas tantangan ini kita harus membunuh Soekarno," kata Kartosoewirjo di tahun 1950an.

Percobaan pembunuhan terhadap Bung Karno hampir berhasil dilakukan. Empat orang pria tiba-tiba melemparkan sejumlah granat ke arah Bung Karno. Saat itu, 30 November 1957, Bung Karno baru saja selesai menghadiri acara malam amal di Perguruan Cikini.

Beruntung Bung Karno selamat dari kejadian itu. Namun, puluhan korban tak berdosa menjadi korban. Kemudian saat hari raya Idul Adha percobaan pembunuhan kepada Bung Karno kembali terjadi.

Bung Karno yang kala itu tengah melaksanakan salat Idul Kurban bersama umat muslim lainnya di lapangan rumput Istana Merdeka, tiba-tiba mendapat berondongan tembakan dari seorang pria. Namun, Bung Karno kembali selamat.
Namun ketika pasukan TNI berhasil mendesak pasukan DI/TII, Kartosoewiryo terpaksa mengakhiri petualangannya hingga akhirnya ia ditangkap di tengah ketidakberdayaannya di Gunung Geber, Jawa Barat, 4 Juni 1962.

Tibalah pada saat detik-detik Soekarno harus menandatangi berkas vonis mati sahabat yang memusuhinya itu, pada September 1962. Bung Karno hanya terdiam memandangi selembar foto Kartosewiryo dan melambungkan memori masa mudanya bersama sang sahabat di Surabaya.

Hari terakhir Kartosoewirjo
Kepedihan semakin terasa, ketika di hari itu juga Soekarno harus menggoreskan tanda tangan yang artinya akhir dari hidup karibnya. Ia pandangi kembali selembar foto Kartosoewiryo, tak terasa linangan air mata menetes dari kedua mata Bung Karno.

Setelah menjalani eksekusi
Dan benar adanya, saat ia menerima laporan ihwal tertangkapnya Kartosoewiryo beberapa bulan sebelumnya hanya satu pertanyaan Bung Karno, "Bagaimana matanya?". Kala itu, tak ada seorang pun yang mampu menjawab. Hingga keesokan harinya, petugas menyodorkan foto Kartosoewiryo.

Demi melihat foto sahabat yang memusuhinya, Bung Karno tersenyum seraya berkata, "Sorot matanya masih tetap. Sorot matanya masih sama. Sorot matanya masih menyinarkan sorot mata seorang pejuang."
Sumber: riauonline.com | nasional.news.viva | merdeka.com