Thursday, January 5, 2017

Mengenal Direktur AKADEMI MILITER Tangerang, PERWIRA Berusia 17 Tahun. GUGUR Diberondong Peluru


Patriot NKRI - Wajah pemuda ini tampan. Hidungnya bangir. Kulitnya putih. Penampilannya gagah dan kinyis-kinyis di eranya tumbuh kembang. Bahkan, sebagian orang menganggapnya memiliki darah Belanda. 

Dia terlahir dengan nama Elias Daniel Mogot. Orang lebih mengenalnya dengan sebutan Daan Mogot. Sebuah nama jalan yang menghubungkan Jakarta, mulai dari perempatan Grogol, Jakarta Barat hingga Tangerang, Banten.


Pemuda kelahiran Manado, 28 Desember 1928, ini dibawa oleh orang tuanya ke Jakarta saat berumur 11 tahun. Daan Mogot adalah anak dari pasangan Nicolaas Mogot dan Emilia Inkiriwang. Ayahnya kala itu merupakan Kepala Penjara Cipinang.

Perwira Usia 17 Tahun

Dia mulai masuk dunia militer ketika Jepang menduduki Indonesia di tahun 1942. Saat itu usianya 14 tahun, walaupun sebenarnya ia tak memenuhi syarat karena usianya belum genap 18 tahun. Namun otaknya terbilang cemerlang serta beragam prestasi selama pendidikan militer, mengantarkannya menjadi instruktur Pembela Tanah Air (Peta) di Tabanan, Bali. Di sini pulalah dia bertemu dengan dua temannya, Kemal Idris dan Zulkifli Lubis. Pemikiran tentang nasib bangsa kerap mereka bincangkan guna mencari jalan keluar.
Baca Juga: NGERII..! Inilah Pasukan HANTU KALIMANTAN Yang Bikin Belanda Keok dan Lari Tunggang Langgang..
Karier Daan Mogot yang moncer membawanya ke Jakarta. Dia ditempatkan sebagai staf di Markas Besar Peta di Jakarta hingga Jepang menyerah pada 15 Agustus 1945. Saat kejatuhan Jepang dan selepas Proklamasi 1945, Daan Mogot bergabung dengan pemuda lainnya mempertahankan kemerdekaan dan menjadi salah seorang tokoh pemimpin Barisan Keamanan Rakyat (BKR) dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dengan pangkat Mayor. Uniknya saat itu Daan Mogot baru berusia 17 tahun namun sudah berpangkat Mayor.

Mendirikan Akademi Militer

Di usia yang baru belasan tahun itu pula, Daan Mogot mencetuskan gagasan membentuk Akademi Militer. Gagasan ini muncul dari pengalamannya menjadi instruktur di Bali. Tujuannya tak lain untuk membentuk perwira dalam upaya mempertahankan kemerdekaan.


Daan Mogot berkeinginan mencurahkan pengetahuannya, apa yang dulu didapatkannya saat masih dibawah PETA. Ia ingin mendidik para pemuda yang mau menjadi tentara. Dan keinginan besarnya itu akhirnya terwujud dengan berdirinya Akademi Milter di Tangerang 18 November 1945 bersama Kemal Idris, Daan Yahya dan Taswin. Dan Daan Mogot diangkat menjadi Direktur Militer Akademi Tangerang (MAT) saat ia berusia 17 tahun dengan calon Taruna pertama yang dilatih berjumlah ada 180 orang.

Tragedi Hutan Lengkong

Setelah memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Belanda tidak serta-merta mengakui begitu saja kemerdekaan Indonesia. Pada 24 Januari 1946, Mayor Daan Jahja selaku Kepala Staf Resimen menerima informasi jika pasukan NICA Belanda sudah menduduki Parung dan hendak mengambil alih markas senjata Jepang di Lengkong. Agresi militer yang provokatif ini pun dikhawatirkan akan membahayakan kedudukan Resimen IV di Tangerang.
Baca Juga: Mengharukan..! Perjuangan Sang Jenderal KURUS Kering, Bermantel LUSUH, dan Berparu-Paru SEBELAH
Untuk melakukan pengamanan dan mendahului jangan sampai senjata Jepang jatuh ke tangan sekutu, berangkatlah pasukan TKR dibawah pimpinan Mayor Daan Mogot dengan berkekuatan 70 taruna Militer Akademi Tangerang dan delapan tentara Gurkha. Selain taruna, dalam pasukan itu terdapat juga beberapa perwira.

Awalnya pertemuan dengan pasukan Jepang di bawah pimpinan Mayor Abe berjalan mulus. Bahkan tentara Jepang ini terkesan dengan cara Daan Mogot bersama kawan-kawannya. Adapun yang menemui Mayor Abe adalah Mayor Daan Mogot, Mayor Wibowo dan Alex Sajoeti, seorang taruna yang fasih berbahasa Jepang kala itu. 

Kericuhan Terjadi

Mayor Abe ternyata keberatan untuk memberikan begitu saja senjata. Dengan alasan belum mendengar perintah dari atasannya untuk pelucutan senjata, Abe meminta waktu tanpa menghentikan perundingan. Sementara perundingan berjalan, Lettu Soebianto dan Lettu Soetopo ternyata sudah mulai para taruna untuk memasuki barak senjata Jepang. 

Tiba-tiba terdengar bunyi tembakan yang tidak diketahui dari mana sumbernya. Letusan senjata itu pun disusul oleh rentetan senapan mesin pasukan Jepang. Dalam waktu singkat perang yang tak seimbang tak dapat dihindarkan. Sebagian tentara Jepang yang sudah menyerahkan senjatanya kembali merebut senjata dari para taruna. Dikisahkan terjadi lemparan granat dan pertempuran satu lawan satu menggunakan sangkur. 
Baca Juga: Terungkap..! Asal-Usul Pisau Kopassus Yang Fenomenal. Ngeri dan Mematikan!
Melihat kejadian yang tak pernah terbayangkan itu, Mayor Daan Mogot keluar dari meja perundingan. Dia berusaha menghentikan pertempuran itu namun gagal. Daan Mogot bersama beberapa pasukannya menyingkir meninggalkan asrama tentara Jepang, memasuki hutan karet yang dikenal sebagai hutan Lengkong.

Markas Jepang Tempat Pertemuan
Namun Taruna MAT yang berhasil lolos menyelamatkan diri di antara pohon-pohon karet mengalami kesulitan menggunakan karaben Terni yang dimiliki. Ditambah lagi, sering kali peluru yang dimasukkan tidak sesuai dengan spesifikasi senjata sehingga menyebabkan macet saat dipakai.

Gugur

Dalam pertempuran, Mayor Daan Mogot terkena peluru pada paha kanan dan dada. Tapi ketika melihat anak buahnya yang memegang senjata mesin mati tertembak, ia kemudian mengambil senapan mesin tersebut dan menembaki lawan sampai ia sendiri dihujani peluru tentara Jepang dari berbagai penjuru.

Dari pertempuran di hutan Lengkong, 33 taruna dan 3 perwira gugur serta 10 taruna luka berat. Mayor Wibowo bersama 20 taruna ditawan, hanya 3 taruna, yaitu Soedarno, Menod, Oesman Sjarief berhasil meloloskan diri dan tiba di Markas Komando Resimen TKR Tangerang pada pagi hari.


Pasukan Jepang selanjutnya bertindak penuh kebuasan. Mereka yang telah luka terkena peluru dan masih hidup dihabisi dengan tusukan bayonet. Para taruna yang masih hidup disandera Jepang dan disuruh menggali kubur bagi teman-temannya yang meninggal. 

Mendengar kabar itu, Pimpinan Resimen Tangerang kemudian meminta izin kepada Jepang untuk mengambil jenazah para pejuang. Setelah diizinkan, jenazah-jenazah tersebut kemudian dikebumikan di dekat penjara anak-anak Tangerang. 

Empat hari setelah Tragedi Lengkong tepatnya pada 29 Januari 1946, dilaksanakan pemakaman kembali ke-36 jenazah yang gugur dalam pertempuran itu. Seorang taruna bernama Soekardi yang mengalami luka berat akhirnya menghembuskan napas di Rumah Sakit Tangerang. 

Monumen

Untuk mengenang Tragedi Lengkong, dibangun sebuah monumen yang terletak di Lengkong Wetan, Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang Selatan dengan sebuah rumah tua bercat hijau. Sementara itu di TMP Taruna dibangun pula sebuah monumen senada di mana tertulis kejadian Lengkong lengkap dengan nama-nama ke-48 pahlawan. Sedihnya, dari ke-48 nama ini, tiga pahlawan di antaranya tidak diketahui identitas mereka. Di batu nisan mereka hanya tertulis 'tak dikenal'. 


Daan Mogot tutup usia pada tanggal 25 Januari tahun 1946. Hanya sempat merasakan sebulan hidup di usia 17 tahun atau dikenal sebagai saat sweet seventeen saat ini. Kisah kepahlawanan Daan Mogot menjadi tamparan bagi kita, saat usia muda ia telah berbakti untuk negerinya. Seharusnya kita terus kabarkan, agar para pemuda tahu bahwa sejarah negeri ini bermula dari kaum pemuda.

Baca Juga:




Sumber: merdeka.com | newsliputan6.com

Mengharukan..! Perjuangan Sang Jenderal KURUS Kering, Bermantel LUSUH, dan Berparu-Paru SEBELAH


Patriot NKRI - Sang Jendral terbatuk-batuk sepanjang malam dalam sebuah pondok reot di tengah hutan. Mantel lusuhnya tidak mampu menahan udara dingin malam itu. 

Itulah peristiwa pada suatu malam di belantara Jawa tahun 1949. Soedirman  tidak menyerah, paru-parunya terus digerus penyakit TBC yang makin parah. 

Di luar pondok, berjaga belasan pengawal Soedirman. Mereka tahu saat ini sang panglima menjadi buruan nomor satu pasukan baret merah Belanda, Korps Speciale Troepen (KST). Nyawa Soedirman dalam bahaya besar.
Baca Juga: Mengharukan..! Ketika Linangan Air Mata Bung Karno Iringi Tanda Tangan Vonis Mati Untuk Sang Sahabat Karib
Tak ada pengawal Soedirman yang tidak meneteskan air mata. Betapa teguh hati jenderal bermantel lusuh yang sakit-sakitan itu.

Jendral Soedirman ditandu
Soedirman lahir tahun 1916 di Desa Bantarbarang, Purbalingga, Jawa Tengah. Awalnya Soedirman adalah guru di sekolah Muhammadiyah. Dia kemudian mengikuti pendidikan Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor. Soedirman menjadi Daidancho atau Komandan Batalyon di Kroya. Setelah kemerdekaan, Soedirman mendapat pangkat kolonel dan memimpin Divisi Y. Dia membawahi enam resimen di Jatiwangi, Cirebon, Tegal, Purwokerto, Purworedjo dan Cilacap.

Nama Soedirman bersinar saat pertempuran di Ambarawa. Dalam pertempuran yang terjadi tahun 1945 itu, Soedirman dan pasukannya berhasil memukul pasukan Inggris. Dalam sidang tentara, Soedirman kemudian terpilih menjadi panglima TNI. Soedirman memikul tanggung jawab besar. Mempertahankan kemerdekaan RI dari kemungkinan ancaman agresi militer Belanda.


Agresi Militer Belanda II tanggal 19 Desember 1948 sukses menduduki Yogyakarta yang saat itu menjadi ibukota Republik Indonesia. Gabungan pasukan baret hijau dan baret merah Belanda merebut Yogya hanya dalam hitungan jam. Mereka pun menangkap para pimpinan republik. Soekarno, Hatta, Sjahrir dan hampir seluruh pejabat negara saat itu.
Baca Juga: Menegangkan..! Merebus Sepatu Lars Untuk Dimakan Hingga Tergantung di Atas Pohon. Kisah PGT dan RPKAD Merebut Irian Barat
Tapi Soedirman tidak mau menyerah. Dia menolak permintaan Soekarno untuk tetap tinggal di Yogyakarta. Saat itu ada perbedaan pendapat antara pemimpin sipil dan pemimpin militer. Soedirman memilih masuk hutan. Memimpin pasukannya dari belantara hutan dan mengorbankan perlawanan semesta sesuai perintah siasat nomor satu. 


Soedirman memerintahkan seluruh prajurit TNI untuk membentuk kantong-kantong gerilya. Mundur dari daerah perkotaan yang dikuasai Belanda dan bersiap untuk bergerilya dalam waktu yang panjang.

Dimulailah perjalanan legenda itu. Panglima tertinggi TNI dengan paru-paru sebelah, dan tubuh sempoyongan bergerilya keluar masuk hutan. Mengorganisir anak buahnya dan membuktikan TNI masih ada. 

Ibukota negara boleh jatuh, presiden boleh ditawan, tapi TNI tidak pernah menyerah. Benteng terakhir republik ada dalam hati para prajurit.

Kondisi kesehatan Soedirman terus memburuk. Akhirnya dia terpaksa ditandu. Konon, setiap prajurit berebutan mengangkut tandu sang jenderal itu. Mereka semua merasa haru melihat sosok Pak Dirman.


Pasukan baret merah Belanda selalu gagal menangkap Soedirman. Berkali-kali pasukan kebanggaan Jenderal Spoor ini harus pulang dengan tangan hampa saat memburu Soedirman.


Perjuangan Soedirman tidak sia-sia. Berbagai serangan yang dilakukan TNI mampu mendesak Belanda duduk ke meja perundingan. Hingga akhirnya Belanda setuju untuk meninggalkan Yogyakarta.

Maka Soedirman kembali ke Yogyakarta. Resimen-resimen TNI berbaris menyambutnya. Mereka tidak kuasa menahan haru melihat tubuh kurus yang berbalut mantel seperti milik petani itu. Para prajurit tahu hanya semangat yang membuat Pak Dirman tahan bergerilya berbulan-bulan. 

Mata para prajurit yang berbaris rapi itu basah oleh air mata. Dada mereka sesak saat memberikan penghormatan bersenjata pada Soedirman.


Semua tahu, gerilya yang dilakukan Soedirman besar artinya untuk Republik Indonesia. Jika Soedirman tidak bergerilya dan melakukan serangan pada Belanda, maka dunia internasional akan percaya propaganda Belanda bahwa republik sudah hancur. Tanpa gerilya, Indonesia tidak akan mungkin punya suara dalam perundingan Internasional.
Baca Juga: NGERII..! Inilah Pasukan HANTU KALIMANTAN Yang Bikin Belanda Keok dan Lari Tunggang Langgang..
Di depan istana Presiden Yogyakarta, Soekarno merangkul Soedirman. Soekarno sempat mengulangi pelukannya karena saat pelukan pertama tidak ada yang memotret momen itu. Momen ini penting artinya, pertemuan keduanya seakan menghapus perbedaan pendapat antara pemimpin sipil dan militer.


Soedirman meninggal 29 Januari 1950. Saat merah putih sudah berkibar di seluruh pelosok nusantara, Soedirman tidak hidup cukup lama untuk melihat hasil perjuangannya.


Sumber: merdeka.com

Wednesday, January 4, 2017

NGERII..! Inilah Pasukan HANTU KALIMANTAN Yang Bikin Belanda Keok dan Lari Tunggang Langgang..


Patriot NKRI - Pergerakan pasukan hantu itu sangat cepat. Mereka seperti bergerak tak terlihat, kemudian menyerang. 

Kita tak bisa memungkiri kalau Belanda dulu itu terlalu hebat bagi orang Indonesia. Kalau dilihat dari kacamata militer, mereka sangat kuat tak hanya dengan bekal strategi dan siasat, tapi juga didukung dengan persenjataan mutakhir di masanya. Tak pelak, mereka bisa menaklukkan Indonesia dengan cukup mudah, bahkan menjajah bumi kita hampir 3,5 abad.
Baca Juga: Kopassus Vs Pasukan Elite Australia SASR, Mana Yang Lebih Unggul Kemampuannya?
Suku Dayak
Meskipun begitu hebat dalam hal kemiliteran, namun ada kalanya pasukan negeri Oranje ini tak mampu menaklukkan para pejuang kita. Dayak adalah suku pasukan yang pernah bikin tentara Belanda Keok. Dayak memang sangat mematikan menurut serdadu Belanda. Bahkan mereka pernah mengatakan, melawan Dayak sama seperti melawan hantu.

Lalu, kenapa pasukan Dayak bisa begitu kuat menghadapi Belanda yang notabene menang telak dalam berbagai hal? Ketahui jawabannya lewat ulasan berikut.

Pasukan Dayak Sangat Menguasai Medan

Lahir dan tinggal di lingkungan hutan, membuat orang-orang Dayak sangat terbiasa dengan sekitar mereka. Ibarat anak TK, bagi orang Dayak hutan adalah taman bermain mereka, dalam artian sebagai sebuah tempat yang sangat-sangat dikuasai. Makanya, tak heran ketika mereka diserang, orang-orang Dayak bisa memberikan perlawanan yang mengejutkan.
Baca Juga: DENJAKA: Pasukan ELIT Indonesia Yang Mendapat Label GODZILLA...Dahsyat..!!

Pasukan Dayak Sangat Menguasai Medan
Belanda pernah mencoba mengusik orang Dayak dan mereka dihajar tanpa ampun. Pasukan Belanda mungkin ahli siasat dan sebagainya, tapi mereka tak menguasai hutan. Alhasil, mereka pun kelimpungan ketika mendapatkan perlawanan dari Dayak. Makanya, menurut sejarah, hutan Kalimantan sangat jarang disentuh oleh para serdadu Belanda.

Fisik Orang Dayak Sangat Terlatih

Memang orang Dayak tidak mendapatkan pelatihan militer seperti pasukan Belanda. Tapi, fisik mereka dilatih secara alamiah oleh alam. Berburu, mengendus, menyesuaikan diri dengan lingkungan, berjalan cepat, sergap, semua dilakukan secara alamiah.

Fisik orang Dayak sangat terlatih 
Belum lagi soal insting, orang Dayak jelas jauh lebih unggul dari serdadu Belanda. Makanya, pasukan Dayak sangat mampu memberikan perlawanan kepada Belanda. Bahkan bisa dibilang sangat mudah, seperti mengambil permen dari tangan bayi.

Kemampuan Bergerak yang Seperti Hantu

Pasukan Belanda pernah mengatakan orang-orang Dayak itu bagai hantu. Alasannya apalagi kalau bukan lantaran orang-orang Dayak bisa melebur dengan hutan dengan sangat baik. Tak hanya pakaian mereka yang sudah seperti baju kamuflase, tapi juga pergerakannya sendiri yang cepat.
Pasukan Dayak bergerak seperti hantu

Melawan Belanda dengan berburu tak ada bedanya. Orang-orang Dayak akan bergerak tak terlihat kemudian menyerang. Mengetahui kemampuan ini Belanda pun sampai ketakutan.

Sumpit Beracun Tak Kalah Mematikan Dari Senapan Sniper

Tak hanya bisa close combat atau bertarung dengan jarak dekat memakai mandau kebanggaan, orang-orang Dayak juga bisa melakukan serangan jarak jauh ala para sniper. Ya, senyap dan tiba-tiba membunuh. Nah, untuk melakukan itu, mereka menggunakan sumpit beracun yang sangar itu.
Sumpit Dayak
Sumpit memang tradisional, tapi jangan tanya soal kemampuannya. Ia bisa diletuskan secepat peluru, plus bisa dikemas dengan racun mematikan yang bahkan bisa untuk membunuh seekor beruang sekalipun. Ini juga yang jadi alasan kenapa Belanda ogah usik orang-orang Dayak.

Motivasi Bertempur Orang Dayak Jauh Lebih Kuat

Dari semua hal yang ada, kemampuan, senjata dan sebagainya, bagian paling penting serta fundamental tentu adalah motivasi. Makin kuat motivasi, semangat juang pun melejit. Dalam hal ini, orang Dayak juga melebihi para serdadu Belanda.
Motivasi Suku Dayak
Prinsip Orang Dayak, mereka takkan mengganggu kalau tak diusik. Makanya, kalau sampai orang luar berusaha melakukan hal itu, mereka akan melawan. Apalagi Belanda yang tujuannya jelas tidak baik dan hanya menginginkan perluasan wilayah saja. Pasukan Dayak pun motivasinya melejit dan kemudian direalisasikan dengan hal-hal mengerikan di atas.

Inilah alasan-alasan kenapa pasukan Belanda zaman dulu begitu segan kalau harus melakukan ekpansi wilayah ke Kalimantan, khususnya ke bagian hutan-hutannya. Pasalnya, yang mereka akan hadapi adalah pasukan mematikan yang bahkan tidak diketahui bagaimana cara melawannya.
Baca Juga: FANTASTIS...! Inilah Jumlah Santunan DEATH GRATUITIES Untuk Tentara Dan Aparat Yang Gugur Saat Bertugas.

Sumber: citizen6.liputan6.com | boombastis.com

Terungkap...! Rahasia Terpendam Dibalik PECI MIRING Presiden Soekarno...


Patriot NKRI - Pohon Beringin itu menjadi saksi peristiwa dibalik alasan Soekarni memakai peci "bergaya" miring tersebut. 

Anda sudah tentu pernah melihat foto Presiden Soekarno dengan peci miring. Apa alasan Soekarno memakai peci miring? Jawaban itu dapat ditemukan di 'Ndalem Pojok' di Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri. 

Gaya Peci Miring Presiden Soekarno
"Rahasia mengapa Soekarno selalu memakai peci miring karena untuk menutupi luka di jidatnya akibat terjatuh ketika bermain di pohon beringin yang ada di depan rumahnya," kata RM Soeharyono keponakan RM Soemosewoyo yang juga bapak angkat Soekarno .
Baca Juga: Mengharukan..! Ketika Linangan Air Mata Bung Karno Iringi Tanda Tangan Vonis Mati Untuk Sang Sahabat Karib
Namun sayang, pohon beringin yang menjadi saksi jatuhnya Soekarno itu telah ambruk sekitar tahun 1970-an karena diterjang angin. 

Soekarno yang mempunyai banyak teman, sering mengajak teman-temannya main ke 'Ndalem Pojok' Wates, antara lain dr Soetomo, R Sosrokartono (kakak kandung RA Kartini) dan HOS Tjokroaminoto dan juga Muso, tokoh PKI asal Jagung, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri.

"HOS Tjokroaminoto melatih Soekarno berorasi ya di sini di bawah pohon beringin yang mengakibatkan luka pada jidatnya. Jadi gaya orasi Soekarno itu atas didikan Pak Tjokro yang juga mertuanya ketika kos di Peneleh Gang II/27 Surabaya," tambah Soeharyono.

Lokasi pohon beringin tempat di mana Soekarno berlatih orasi sekarang menjadi tiang bendera, di mana di setiap kegiatan hari besar nasional selalu diadakan upacara di 'Ndalem Pojok'.

Soekarno berorasi
Selain cerita tentang pohon beringin juga ada pohon yang menjadi saksi perjalanan cinta ayah Soekarno , R Soekemi, yakni pohon kantil raksasa. Pohon yang ditanam sekitar tahun 1850 oleh RMP. Soemohadmodjo itu pernah dimanfaatkan sang ayah untuk memantapkan hatinya meminang sang pujaan hati Ida Nyoman Rai Srimben dari Bali.
"Tanaman mbah buyut saya masih ada sampai sekarang, dan kalau dipikir ini adalah tanaman pohon kantil terbesar yang pernah ada," pungkas R. Koeshartono cucu keponakan RM Soemosewoyo yang juga ayah angkat Soekarno.



Sumber: merdeka.com

Usman & Harun DIGANTUNG, MARINIR Siap TENGGELAMKAN Singapura...Ngeri...!


Patriot NKRI - Mereka tegar sekali, berjalan dengan sikap sempurna sebagai prajurit menuju tiang gantungan. Mereka digantung bergantian memakai satu tali gantungan

Sebagai bentuk penghormatan kepada prajurit yang berjasa bagi bangsa dan negara, TNI AL berniat menamai kapal perangnya dengan nama KRI Usman Harun. Sersan Dua Usman Janatin dan Kopral Harun Said merupakan anggota KKO (Korps Komando Operasi; kini disebut Marinir) yang tewas di tiang gantung Singapura.

Pahlwan Nasional Usman dan Harun, Anggota KKO yang tewas ditiang gantungan
Pemberian nama Usman Harun kepada kapal perang itu mendapat tentangan keras dari pemerintah Singapura. Alasannya penamaan kapal perang tersebut akan melukai perasaan rakyat negeri jiran itu.

KRI Usman harun
Usman dan Harun sendiri merupakan anggota satuan elite Marinir (KKO) yang ditugaskan mengebom pusat keramaian di Singapura pada 1965. Keduanya adalah marinir yang melaksanakan tugas negara pada periode konfrontasi dengan Federasi Malaya. Setelah tertangkap, keduanya kemudian dieksekusi dengan cara digantung pada 17 Oktober 1968.
Baca Juga: Meminum DARAH Temannya Yang GUGUR, Jiwa Patriot RUSMINA Makin Berkobar Dan Menggelora
Digantungnya dua prajurit KKO mengakibatkan aksi demonstrasi terjadi di mana-mana. Rakyat menuntut agar Presiden Soeharto menyatakan perang dengan Singapura.

Dalam buku 'Singapura Basis Israel Asia Tenggara', Rizki Ridyasmara menuliskan; "Kala itu bahkan terdengar suara bahwa KKO sudah siap menyerang Singapura dan dalam tempo dua jam sanggup menenggelamkan negara kecil tersebut ke dasar Selat Malaka".

Dalam buku setebal 212 halaman tersebut, Rizki menuliskan, ancaman KKO tersebut bukan gertakan semata. Saat itu, kekuatan armada perang Republik Indonesia warisan Presiden Soekarno sangat ditakuti di Asia Tenggara.

"Australia pun kecut untuk berbuat macam-macam dengan Indonesia. Soekarno telah mewariskan armada perang yang kuat kepada Soeharto", tulis Rizki dalam Bab IV: Moncong Meriam di Jidat Indonesia.
Namun sayang, Presiden Soeharto yang baru memimpin republik ini belum menyatakan perang dengan negara yang luasnya tidak lebih dari dua kali Kabupaten Karawang itu. Oleh Soeharto , keduanya langsung diberi gelar pahlawan dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Misi Negara

Bermula dari pidato Presiden Soekarno di Lapangan Ikada (sekarang Lapangan Monumen Nasional), 27 Juli 1963. Para pemuda, termasuk Usman dan Harun, tergerak mendaftar menjadi relawan Ganyang Malaysia. Bahkan jumlah mereka mencapai 21 juta orang. 


Singapura saat masa konfrontasi, 1963-1965, terasa mencekam. Pemerintah negara kota itu sudah memperingatkan penduduk lewat siaran televisi dan radio agar menjauhi tempat-tempat keramaian. Sebab ledakan bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. 

Era konfrontasi dipicu oleh berdirinya negara Federasi Malaysia pada 1957. Presiden Soekarno menudingnya sebagai negara boneka Inggris, serta dibentuk untuk melemahkan perekonomian Indonesia. Dalam pidato 27 Juli 1963 di Lapangan Ikada, Soekarno mengobarkan slogan Ganyang Malaysia. 
Baca Juga: Mengharukan..! Ketika Linangan Air Mata Bung Karno Iringi Tanda Tangan Vonis Mati Untuk Sang Sahabat Karib
Sejak pidato Soekarno pula, kecemasan dan ketakutan melanda warga Singapura. Penduduk di kampung-kampung giat melaksanakan ronda malam. Dari data kepolisian Singapura, kata Salim, selama masa konfrontasi terjadi 42 ledakan di seantero Negeri Singa itu.

"Waktu itu hampir semua pemuda rela mati demi mempertahankan keutuhan bangsa dari para penjajah, termasuk Usman dan Harun," kata Manoar Nababan, pensiunan Korps Komando Operasi (KKO) Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut berpangkat Pembantu Letnan Satu.

Sebelum melancarkan perang terbuka Indonesia melancarkan operasi hitam atau misi intelijen untuk mengacak-acak negara musuh. Ada 30 prajurit KKO, termasuk Usman dan Harun, diterjunkan untuk melaksanakan misi sabotase di Singapura.

Prajurit KKO

"Mereka diberangkatkan bertahap dari Pulau Sambu (Kepulauan Riau)," kata lelaki 74 tahun bernama samaran Bakrie bin Atub saat menyusup ke Malaysia. Manoar memperoleh rincian ini dari sejumlah tim intelijen Brahma selamat kembali ke Pulau Sambu. 

Karena operasi intelijen, 30 anggota KKO itu harus memakai nama samaran. Komandan Brahma Kapten Paulus Subekti memilihkan nama-nama palsu itu untuk ke-30 anak buahnya. Usman adalah nama samaran bagi Janatin bin Muhammad Ali. Harun bin Said dipakai oleh Tahir bin Mandar. Gani bin Arup juga nama samaran. Tapi Manoar tidak tahu nama aslinya.

Manoar tidak ingat kapan Usman, Harun, dan Gani menyusup ke Singapura. Ketiganya berangkat menumpang kapal tekong. Ini merupakan perahu bermotor dengan kekuatan 200 PK. Biasanya kapal ini mengangkut barang selundupan, seperti karet dan pakaian. 

Tekong mengetahui siapa sebenarnya ketiga orang berpakaian sipil itu. Namun dia mesti mengunci mulutnya rapat-rapat karena dia sudah dibayar, termasuk dibekali uang buat menyuap petugas bea dan cukai Singapura. 
Baca Juga: Aksi Heroik Dan Menegangkan..! Duel Maut Sampai Mati: Satu Lawan Satu Kopassus vs Gerilyawan PGRS
Usman, Harun, dan Gani masing-masing dilengkapi bahan peledak jenis TNT disembunyikan di antara barang selundupan. Ketiganya juga dibekali USD 1 ribu. "Penyusupan itu berlangsung malam," ujar Manoar. 

Operasi bersandi Brahma ini juga berlangsung di wilayah timur Malaysia atau Kalimantan Utara. Tidak semua penyusupan berlangsung mulus. beberapa ditangkap dan sebagian ditembak mati tentara musuh. "Semua ciri kemiliteran dihilangkan, kita harus bisa berbaur dengan sipil. Sisanya kita dibekali seribu dolar Amerika," tutur Manoar.

Usman, Harun, dan Gani akhirnya berhasil melaksanakan tugas mereka: meledakkan jembatan penghubung antara Johor dan Singapura serta gedung MacDonald House. Mereka juga berhasil memetakan wilayah musuh dan sasaran strategis. 



Gedung MacDonald House

Dua sahabat setali gantungan

Kamis subuh, 17 Oktober 1968. Suasana hening masih menyelimuti Penjara Changi, Singapura. Namun kondisi Usman dan Harun tentu sebaliknya. Perasaan mereka campur aduk: sedih dan kecewa. 

Sehabis salah subuh, sipir membuka pintu sel mereka. Rupanya Usman dan Harun kesatria sejati. Mereka tetap tegar. Sepasang petugas penjara mengapit masing-masing Usman dan Harun menuju sebuah ruang khusus terletak di tengah kompleks Penjara Changi. Di sanalah mereka bakal menjemput ajal. 

"Mereka tegar sekali, berjalan dengan sikap sempurna sebagai prajurit," kata Humphrey Djemat saat ditemui merdeka.com di kantornya, lantai sembilan Plaza Gani Djemat, Jakarta Pusat. "Jadi tidak benar mereka dibius lalu urat nadi mereka dipotong."

Humphrey mendapat cerita dari mendiang ayahnya, Gani Djemat. Ketika eksekusi itu dilaksanakan, Gani Djemat hadir sebagai perwakilan keluarga. Jabatannya saat itu adalah atase militer di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura.
Baca Juga: Aksi Heroik Pierre Tendean Pimpin Pasukan Elite Menyusup Masuk, Sikat, Dan Hancurkan Fasilitas Malaysia...
Masih menurut cerita Gani Djemat, kata Humphrey, prosesi hukuman gantung berlangsung sekitar dua jam, dimulai pukul enam pagi. "Mereka digantung bergantian memakai satu tali gantungan. Wajah mereka ditutup," ujar Humphrey. 

Sebelum pelaksanaan hukuman mati itu, Gani Djemat empat kali menemui Usman dan Harun di tahanan. Sayangnya pertemuan dilakoni pihak Kedutaan Indonesia boleh dibilang sangat terlambat. Namun bukan kesalahan mereka. Tapi pihak Singapura memang baru memberitahu soal Usman dan Harun secara resmi dua bulan sebelum mereka digantung. 

Sejak itu Gani Djemat ditugasi atasannya, Wakil Duta Besar Abdul Rahman Ramli, mengurus masalah kedua anggota Korps Komando Operasi tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut itu. Biasanya Gani menemui keduanya di ruangan khusus sekitar sejam. 

Gani terus terang mengakui sangat terkejut melihat ketegaran Usman dan Harun. Mereka berkeyakinan melaksanakan tugas negara dan bukan teroris. "Hebat benar dua orang itu. Saya nggak nyangka. Saya pikir waktu ketemu pertama kali semangat mereka akan hilang dan putus asa," tutur Humphrey.

Selama dua bulan itu pula, Gani ikut mengupayakan mengubah hukuman mati buat Usman dan Harun, termasuk meminta maaf dari keluarga korban. Tetap saja vonis Hakim J. Chua dari Pengadilan Tinggi Singapura tidak mampu diganti. Hingga akhirnya kedua sahabat itu menjemput ajal di satu tali gantungan. 

Pengorbanan dan jasa yang disumbangkan oleh Usman dan Harun terhadap Negara dan Bangsa maka Pemerintah telah menaikkan pangkat mereka satu tingkat lebih tinggi yaitu Usmar alias Janatin bin Haji Muhammad Ali menjadi Sersan Anumerta KKO dan Harun alias Tohir bin Mandar menjadi Kopral Anumerta KKO. Sebagai penghargaan Pemerintah menganugerahkan tanda kehormatan BintangSakti dan diangkat sebagai Pahlawan Nasional.


Jenazah Usman Dan Harun diturunkan dari pesawat

Baca Juga:


Sumber: merdeka.com

Tuesday, January 3, 2017

[Legendaris] Resimen Pelopor: Pasukan Elite Indonesia Lawan SAS Inggris yang Terlupakan


Patriot NKRI - Nama Resimen Pelopor mungkin sangat asing ya di telinga. Tidak heran, karena pasukan kepolisian elit ini sudah lahir di masa kemerdekaan. 

Berbicara soal pasukan elit, Indonesia bisa dibilang punya banyak sekali yang seperti ini. Sebut saja Paskhas, Kopassus, Kopaska, Den Jaka dan lain-lain.

Untuk kepolisian, kita juga punya Densus-88 dan juga Brimob untuk bagian serbu dan anti teror. Dalam perjalanannya, sebenarnya pasukan elit di Indonesia itu masih ada beberapa lagi. Namun, dihapus karena satu dan lain hal. Salah satunya adalah Resimen Pelopor.

Dulu pasukan ini adalah salah satu andalan Indonesia dan pernah diturunkan dalam berbagai konflik. Makanya, soal kualitas dan pengalaman, Resimen Pelopor boleh dibilang adalah yang terbaik di Indonesia kala itu. Sayangnya, Resimen Pelopor para akhirnya dihapus dengan alasan khusus. Padahal lagi moncer-moncernya.

Sebagai orang Indonesia yang cinta akan sejarah, kita juga harus tahu nih soal pasukan elit satu ini. Misalnya tentang bagaimana mereka, apa yang sudah dilakukan, bagaimana jasanya bagi Indonesia, dan lain sebagainya.

Alasan Resimen Pelopor Dibentuk

Keadaan Indonesia yang baru merdeka sangat rentan sekali dengan yang namanya ancaman. Entah agresi-agresi dari luar, lebih-lebih kudeta yang juga cukup mungkin terjadi.


Alhasil, untuk memproteksi republik ini dari hal-hal semacam itu dibentuklah satuan khusus yang anggotanya adalah orang-orang pilihan. Singkat kata, inilah yang mendasari lahirnya Resimen Pelopor.
Baca juga: Aksi Heroik Dan Menegangkan..! Duel Maut Sampai Mati: Satu Lawan Satu Kopassus vs Gerilyawan PGRS
Sesuai dengan prediksi, kehadiran satuan ini memang benar-benar sangat membantu kestabilan NKRI. Resimen Pelopor tercatat berhasil melakukan banyak aksi yang membuat negara kita bisa tetap aman dari segala ancaman.
Seumpama Resimen ini tidak dibentuk ketika itu, mungkin jalannya sejarah bangsa kita ini akan sedikit banyak berubah.

Kemampuan Handal Para Anggota Resimen Pelopor

Berbicara soal kemampuan, Resimen Pelopor selalu dianggap lebih mematikan dari kebanyakan pasukan lainnya di masa itu.


Secara umum satuan ini ada di bawah kepolisian, tapi mereka punya kemampuan militer. Alhasil, para anggota Resimen Pelopor pun memiliki dua keahlian yang berbeda dan membuat mereka sangat mematikan.

Anggota Resimen Pelopor dipilih dari para anggota kepolisian terbaik. Bahkan beberapa mereka sampai ada yang kursus langsung kepada pasukan elit Amerika yang ketika itu bertugas di Okinawa.

Nggak pelak, hal ini membuat Resimen Pelopor makin maut saja. Nggak hanya itu, pasukan ini juga didukung oleh persenjataan canggih di masanya, misalnya senjata AR-15 yang di masa itu sudah yang paling gahar.

Nggak hanya kemampuan, Resimen Pelopor ini juga punya semacam tekad yang sangat luar biasa. Sejarah mengatakan kalau pasukan satu ini mentalnya benar-benar super.

Dalam setiap misi, mereka selalu menganggap itu sebagai tugas akhir. Alhasil, pasukan ini pun pol-polan alias maksimal banget dalam tugasnya.

Pernah Melawan SAS-nya Inggris

Berbicara soal pengalaman, Resimen Pelopor tentu sangat memilikinya. Selama terbentuk sampai tamat, pasukan ini sudah melakukan banyak misi.


Beberapa sangat mematikan, misalnya pertempuran melawan SAS. SAS sendiri adalah pasukan spesialnya Inggris yang namanya sudah terkenal seantero jagad akan kemampuannya.
Baca Juga: Menegangkan..! Merebus Sepatu Lars Untuk Dimakan Hingga Tergantung di Atas Pohon. Kisah PGT dan RPKAD Merebut Irian Barat
Resimen Pelopor melawan SAS ketika Indonesia menyatakan perang terhadap Malaysia. Ketika itu TNI dan Pelopor bahu membahu mempertahankan nama baik Indonesia yang sudah diinjak-injak Malaysia.


Hasilnya bisa dibilang luar biasa. Pasukan kita, termasuk Pelopor, sanggup memberikan perlawanan yang bagus sekali di pertempuran itu.

Jasa Resimen Pelopor Bagi Indonesia

Kalau berbicara soal jasa sih, mungkin tidak bisa dihitung lagi seberapa besar sumbangsih pasukan khusus ini bagi Indonesia.


Resimen Pelopor tercatat sudah melakukan banyak sekali pertempuran penting. Selain melawan SAS tadi, masih ada beberapa perang yang mereka jalani.

Salah satunya adalah misi pembebasan Irian Barat. Ketika itu Resimen Pelopor bekerja sama dengan TNI untuk mengusir Belanda.

Tidak hanya itu, dalam dua agresi Belanda, Resimen satu ini juga berperan sangat aktif. Resimen ini juga pernah memberangus beberapa aksi pemberontakan seperti DI/TII.

Akhir Cerita Resimen Pelopor

Meskipun jasanya sangat luar biasa, tapi pada akhirnya resimen ini dihapuskan. Alasannya sendiri tidak begitu prinsip, hanya karena pemindahan kekuasaan saja. Begitu Presiden Soekarno lengser, pasukan ini pun langsung dilebur.


Meskipun satuannya hilang, tapi anggota Resimen Pelopor tetap masuk dalam kepolisian. Sayangnya, mereka tidak lagi berlatih militer sehingga kemampuannya pun pudar. 

Seiring dengan berjalannya waktu, orang-orang pun sudah benar-benar lupa kalau Indonesia pernah memiliki satu pasukan khusus nan jemawa yang jasanya benar-benar nggak tergantikan.

Hilangnya Resimen Pelopor bisa dibilang adalah hal yang sangat disayangkan. Pasalnya secara kualitas mereka sangat mumpuni dan jadi yang paling hebat.
Baca Juga: Menggelikan..! Inilah Kisah LUCU Prajurit Kopassus Saat Bertempur Sengit Dibawah Hujan Peluru
Seumpama nih pasukan satu ini terus dipertahankan sampai hari ini, mungkin Resimen Pelopor namanya akan segarang SWAT-nya Amerika serikat atau pasukan elit kepolisian terbaik dunia lainnya.


Sumber: bangka.tribunnews.com