Monday, January 2, 2017

Aksi Heroik Dan Menegangkan..! Duel Maut Sampai Mati: Satu Lawan Satu Kopassus vs Gerilyawan PGRS


Patriot NKRI - Sang prajurit Kopassus berusaha menangkis bayonet dengan tangan. Akibatnya lengannya terluka parah dan jari-jari kanannya nyaris putus (gambar diatas merupakan ilustrasi).

Jenderal Purn AM Hendropriyono meluncurkan buku berjudul Operasi Sandi Yudha, Menumpas Gerakan Klandestin yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas tahun 2013. Buku ini mengisahkan operasi militer pasukan khusus Angkatan Darat melawan gerombolan Pasukan Gerilya Rakyat Serawak (PGRS) dan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku) sekitar tahun 1968-1974. Banyak kisah menarik di dalamnya.

Jenderal Purn AM Hendropriyono
Salah satu hal yang menarik adalah upaya penangkapan petinggi PGRS/Paraku dengan jabatan Sekretaris Wilayah III Mempawah Siauw Ah San. Tim Halilintar pimpinan Kapten Hendropriyono bisa mendapatkan info soal Ah San dari Tee Siat Moy, istrinya yang berkhianat. Siat Moy mau membantu TNI dengan syarat Ah San tak dibunuh.

Maka Hendro memimpin 11 prajurit Halilintar Prayudha Kopasandha (kini Kopassus) untuk meringkus Ah San hidup-hidup. Mereka tidak membawa senjata api, hanya pisau komando sebagai senjata. Hanya Hendro yang membawa pistol untuk berjaga-jaga. Setiap personel dilengkapi dengan handy talky (HT).
Baca Juga:  Kisah Heroik Dan Mengharukan Sertu SUPARLAN, Sang LONE SURVIVOR, RAMBO Sebenarnya.
3 Desember 1973 pukul 16.00, tim mulai merayap ke sasaran yang jauhnya sekitar 4,5 km melewati hutan rimba yang lebat. Kecepatan merayap pun ditentukan. Kode hijau artinya merayap 10 meter per menit, kode kuning berarti lima meter per menit. Sedangkan kode merah artinya berhenti merayap.


Ditargetkan mereka bisa sampai di titik terakhir pukul 22.00. Lalu melakukan operasi penyerbuan di gubuk Ah San pukul 04.00, keesokan harinya. Baru setengah jam merayap, tim sudah dihadang ular kobra. Ada juga yang ternyata melintasi sarang kobra. Untung saat latihan komando mereka sudah praktik menjinakkan ular kobra sehingga tak ada yang kena patuk.

Di tengah kegelapan malam, anak buah Hendro juga berhasil melumpuhkan beberapa penjaga secara senyap.


Pukul 22.25 WIB, tim sudah sampai di lokasi yang ditentukan. Masih cukup lama menunggu waktu operasi. Namun rupanya kemudian lewat HT, Intelijen melaporkan Ah San tak ada di pondok tersebut. Seluruh tim sangat kecewa.

Baru pukul 14.00 Siat Moy dan perwira intelijen Kodim Mempawah memastikan Ah San ada di pondok. Maka kembali kegembiraan melingkupi seluruh anggota tim.

Dengan kecepatan kuning mereka terus merayap mendekati sasaran hingga akhirnya dari jarak 200 meter terlihatlah pondok kayu. Itulah rumah persembunyian Ah San.

Tiba-tiba anjing-anjing penjaga pondok tersebut berloncatan ke arah tim Halilintar sambil mengonggong keras. Hendro segera meneriakkan komando "Serbuuuuu," katanya sambil lari sekencang-kencangnya ke arah pondok.

"Abdullah alias Pelda Kongsenlani mendahului saya lima detik untuk tiba di sasaran. Dia mendobrak pintu dengan tendangan mae-geri dan langsung masuk. Saya mendobrak jendela dan meloncat masuk," beber Hendro.

Hendro berteriak pada Ah San. "Menyerahlah Siauw Ah San, kami bukan mau membunuhmu."

Tapi Ah San enggan menyerah. Dia menyabet perut Kongsenlani dengan bayonet hingga usus prajurit itu terburai. Hendro menyuruh anak buahnya keluar pondok. Dia sendiri bertarung satu lawan satu dengan Ah San.

"Dengan sigap saya lemparkan pisau komando ke tubuh Ah San. Tapi tidak menancap telak, hanya mengena ringan di dada kanannya," Hendro menggambarkan peristiwa menegangkan itu.

Kini Hendro tanpa senjata harus menghadapi Ah San yang bersenjatakan bayonet. Memang ada senjata yang ditaruh di belakang tubuh Hendro, tapi mengambil senjata dalam keadaan duel seperti ini butuh beberapa detik. Hendro takut Ah San keburu menusuknya.

Hendro lalu melompat dan menendang dada Ah San. Berhasil, tetapi sebelum jatuh Ah San sempat menusuk paha kiri Hendro hingga sampai tulang. Darah langsung mengucur, rasanya ngilu sekali.

Ah San kemudian berusaha menusuk dada kiri Hendro. Hendro berusaha menangkis dengan tangan. Akibatnya lengannya terluka parah dan jari-jari kanannya nyaris putus.
Baca Juga: Heroik dan Inspiratif..! Kisah 8 Para Raider-305 Tengkorak Taklukkan Lawan di Timor-Timur
Celakanya pistol di pinggang belakang Hendro melorot masuk ke dalam celananya. Butuh perjuangan baginya untuk meraih pistol itu dengan jari-jari yang nyaris putus. Akhirnya Hendro berhasil meraihnya. Perwira baret merah ini menembak dua kali. Tapi hanya sekali pistol meletus, satunya lagi macet. Pistol segera jatuh karena Hendro tak mampu lagi memegangnya.

Peluru itu mengenai perut Ah San. Membuatnya limbung, Hendro yang juga kehabisan tenaga membantingnya dengan teknik o-goshi. Kemudian Hendro menjatuhkan tubuhnya keras-keras di atas tubuh Ah San.

Duel maut itu selesai. Ah San tewas, tetapi Hendro pun terluka parah. Beruntung anak buahnya segera datang menyelamatkan Hendro. Rupanya saat diserang tadi Ah San sudah membakar gubuknya sendiri. Tujuannya agar pasukan penyerang sama-sama mati terbakar.

Hendro sempat meminta maaf pada Siat Moy tak bisa menangkap Ah San hidup-hidup. Sambil menangis Siat Moy mengaku bisa memaklumi hal ini.

"Saya lihat sendiri, Atew (panggilan untuk Hendro) telah berusaha dan memang Siauw Ah San yang keras kepala. Saya sangat sedih melihat Atew seperti ini," kata Siat Moy.

Hendro menderita sebelas luka di tubuhnya. Kondisinya cukup parah, namun Hendro masih meminta anak buahnya untuk memakamkan Ah San secara layak.

"Mau dimakamkan pakai ritual apa, dia tidak punya agama," kata Phang Lee Chong, mantan tokoh PGRS/Paraku yang kini berpihak pada TNI.

Hendro menukas, "Namanya Siauw Ah San alias Hasan, makamkan saja secara Islam."


Luka-luka Hendro dan Kongsenlani berhasil disembuhkan. Hendro mendapat Satya Lencana Bhakti, tanda jasa khusus bagi tentara yang terluka dalam pertempuran.

Baca juga: 


Sumber: merdeka.com

Menggelikan..! Inilah Kisah LUCU Prajurit Kopassus Saat Bertempur Sengit Dibawah Hujan Peluru


Patriot NKRI - Buat prajurit biasa, terjun di pusat kekuatan musuh dan ditembaki dengan gencar merupakan mimpi buruk. Namun anehnya, bagi prajurit Kopassus TNI AD, hal itu dianggap sebagai pesta pora.

Peristiwa ini terjadi 7 Desember 1975. Saat itu TNI mengerahkan Brigade Lintas Udara dan Kopassus untuk merebut Kota Dili di Timor Timur. Pasukan Kopassus yang saat itu masih bernama Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopasandha), diterjunkan untuk merebut objek vital yang dikuasai tentara Tropas dan Fretilin.

Tentara Indonesia di Timor Timur
Pertempuran berlangsung cukup sengit. Sisa-sisa pasukan Fretilin dan Tropas yang belum sempat lari ke hutan terus memberikan perlawanan dari sela-sela bangunan di Kota.
Baca juga: Inilah Pasukan Elite TONTAIPUR. Laksana HORNET Raksasa Yang Mematikan.....!
Kisah ini dituliskan oleh wartawan Senior Antara MS Kamah dalam bukunya 'Wartawan Perang dari Irian Barat hingga Timor Timur'.

MS Kamah meliput langsung puncak Operasi Seroja. Di satu sudut kota dia bertemu dengan pasukan Kopasandha. 


Kamah cukup terkesan dengan gerakan tempur yang ditampilkan para prajurit muda tersebut. Dia menaksir usia para prajurit Kopasandha itu semua di bawah 25 tahun. Kepala mereka gundul semua.

"Satu regu Kopasandha ini siaga penuh di depan salon kecantikan yang telah porak poranda. Anak-anak Kopasandha berlompatan seperti kancil, tiarap dan awas memperhatikan dari mana arah tembakan," tulis Kamah.

Setelah suasana sedikit tenang, Kamah mengobrol dengan mereka. Di tengah-tengah prajurit gundul itu dia melihat ada yang berambut panjang warna-warni. Kamah heran, kok bisa? Ternyata mereka memakai wig dari salon yang sudah porak poranda itu.

"Coba bapak lihat, ini rambut hadiah dari Tropas," kata seorang prajurit sambil tertawa.
Baca juga: MEMBANGGAKAN...! Inilah Para Penerus LEGENDA SNIPER dan PETEMBAK Terbaik Indonesia...
Walau berada di tengah pertempuran sengit, para prajurit muda itu tetap ceria. Mereka bercerita pada wartawan senior tersebut tadi mereka sempat berpesta pora.

Lagi-lagi Kamah bingung, apa maksudnya pesta pora. Bukankah sejak melompat dari pesawat mereka langsung terus mengalami pertempuran sengit?

"Waahh itu dia pesta pora," jawab para prajurit serentak.

Seorang prajurit menyambung cerita. "Dengan mengucap Bismillah saya terjun," katanya.


Tembakan gencar dari bawah tak membuat mereka takut. Saat mendarat mereka langsung mengambil posisi tempur dan terlibat tembak menembak. Ada beberapa pasukan yang tercecer dan mendarat berjauhan. Namun mereka segera mampu bergabung dengan kawan-kawannya untuk melakukan penyerangan.

Kamah memuji para prajurit muda itu dalam tulisannya.

"Latihan berat selama pendidikan telah membekali mereka untuk mampu mengatasi tantangan apa pun dalam suatu medan tempur."

Baca Juga: 


Sumber: merdeka.com

MEMBANGGAKAN...! Inilah Para Penerus LEGENDA SNIPER dan PETEMBAK Terbaik Indonesia. JAWARA Dunia


Patriot NKRI - Tentara negara lain heran, masa bisa kalah dengan senjata yang dibawa prajurit TNI buatan lokal pula. Malahan mereka ada yang bilang Indonesia pakai Magic.

Serda Dasep Iman Suherman

Dua kali ikut serta dan menyumbangkan medali di ajang Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM) Sersan Dua (Serda) Dasep Iman Suherman menorehkan kebanggaan untuk Indonesia.

Serda Dasep Iman Suherman
Betapa tidak, prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat (AD) Yonif 300/Raider Banjar Kedaton, Kodam/III Siliwangi Ini berhasil mempertahankan Indonesia untuk tetap bertengger di posisi pertama di ajang tahunan lomba menembak internasional itu.
Serda Dasep bersama teman-temannya berhasil mengungguli negara lain membuat Indonesia berada jauh di atas 20 negara pesaing seperti Malaysia, Inggris, Amerika bahkan Australia sendiri sebagai tuan rumah.

Serda Dasep Iman Suherman
Serda Dasep Iman Suherman anggota Yonif 300/Raider Banjar Kedaton Kodam III/Siliwangi adalah termasuk salah satu perwakilan prajurit terbaik dari 19 orang yang menjadi Kontingen TNI AD yang meraih prestasi Juara Umum di berbagai ajang internasional yang dikenal sebagai penembak jitu di ajang AASAM 2016.
Baca Juga: Inilah Pasukan Elite TONTAIPUR. Laksana HORNET Raksasa Yang Mematikan...DAHSYAT..!
Keikutsertaan Serda Dasep pada ajang Lomba Tembak AASAM 2016 adalah yang kedua kalinya. Pertama kali Serda Dasep mengikutinya pada Tahun 2015. Pada waktu itu, Serda Dasep dalam nomor perorangan meraih medali 4 perak dan 1 perunggu sedangkan untuk nomor beregu meraih 6 emas dan 1 perak. 

Untuk kali yang kedua, Serda Dasep mengikutinya pada Tahun 2016. Pada tahun ini, untuk nomor perorangan Serda Dasep menyumbang 1 perak dan 2 perunggu. Dalam nomor beregu Serda Dasep menyumbang 1 emas, 1 Perak dan 2 Perunggu. Total medali yang diraih Serda Dasep yaitu 7 emas, 2 perak dan 4 perunggu.

Kehebatan Senjata Buatan Indonesia

Pria kelahiran 12 februari 1983 lalu di Sukabumi itu mengaku bangga bisa mewakili negaranya di ajang internasional, sekaligus membuka mata negara lain jika senjata buatan indonesia lebih hebat dari buatan luar negeri .

Yang lebih membanggakan lagi, Serda Dasep dan tim TNI Angkatan Darat  dalam menembak AASAM menggunakan senapan Jenis SS2-V4 dan senjata genggam G2 buatan PT. Pindad. Salah satu industri Strategis dalam negeri kebanggaan anak bangsa Indonesia yang memproduksi senjata untuk TNI AD.


Shot Gun G2-ELITE2

SS2-V4 Kal 5.56

SS2-V4HB
"Kita bisa buktikan jika merah putih tidak kalah dengan tentara luar apalagi senjata yang digunakan asli buatan lokal milik PT Pindad," sambungnya seraya tersenyum.

“Keberhasilan Dasep dan tim TNI AD telah turut mengharumkan nama TNI Angkatan Darat dan bangsa Indonesia dalam meraih juara umum dalam lomba tembak AASAM. Ini menunjukkan profesionalisme prajurit TNI mengungguli negara lain,” ungkap Kapendam III Siliwangi, Letkol ARH Desi Ariyanto.

Dikira pakai Magic 

Pada April lalu, Serda Dasep berangkat bersama 14 rekannya untuk mengikuti AASAM. Ia masuk ke dalam kategori tembak reaksi dengan senjata senapan bersama 8 anggota TNI lainnya.

"Selain senapan, ada dua rekan yang ikut di kategori Sniper dan empat lainnya di pistol. Di seluruh kategori hampir semua medali kita borong, tapi kan enggak enak sama negara lainnya," ujar Serda Dasep setengah bercanda.
Setiap AASAM digelar, Indonesia selalu langganan berada di posisi teratas. Tak aneh bagi Dasep ketika tentara negara lain sering menganggap ada kecurangan dengan senjata yang digunakan prajurit TNI.

"Wajar mereka heran, mereka menganggap jika negara mereka lebih maju begitu juga dengan persenjataannya. Masa bisa kalah dengan senjata yang dibawa prajurit TNI buatan lokal pula, malahan mereka ada yang bilang Indonesia pakai Magic," tandas Serda Dasep sambil tertawa.

Letda Appolta Siahaan

Letda Appolta Siahaan, seorang prajurit TNI AD mencatatkan namanya sebagai pemenang lomba tembak perorangan di ajang Australian Army Skill and Arms Meeting (AASAM). Ini merupakan kemenangan berturut-turut sejak tahun 2008.


Letda Siahaan saat ditandu setelah memenangi lomba tembak perorangan

“Saya sangat senang bisa menjuarai kompetisi AASAM tahun 2016 ini,” ujarnya selepas ditandu sebagai salah satu bagian dari tradisi kemenangan di AASAM.

Tidak hanya membuktikan kehebatan prajurit Indonesia, AASAM juga menjadi pembuktian kualitas senjata buatan Indonesia. Pasalnya, Letda Siahaan menyabet kemenangan dengan menggunakan senapan SS-2 V2 buatan PT Pindad.

Letda Appolta Siahaan sendiri  merupakan anggota Detasemen Markas (Denma) Divisi Infanteri (Divif) 2 Kostrad TNI AD. Sebelum bergabung dengan Divif 2, Letda Appolta lama berkarir di Batalyon 328.
Sumber: detik.com | tniad.mil.id | angkasa.co.id

Mengagumkan..! Inilah Kehebatan SANG LEGENDA, SNIPER ELIT Berkaliber DUNIA Dari Indonesia..


Patriot NKRI - Sang sniper menarik picu senapan. Sebutir peluru melesak dan mengenai sasaran. Sang komandan roboh.

Tatang Koswara salah satu sniper legendaris terbaik yang dimiliki Indonesia telah meninggal dunia. Peltu Tatang meninggal pada Selasa 3 Maret 2015 malam akibat serangan jantung. Dia meninggal pada usia 68 tahun.

Kepergiannya yang mendadak begitu menyisakan kesedihan bagi keluarga dan juga negeri ini. Semasa jadi prajurit Tatang merupakan seorang sniper handal. Kemampuan menembaknya pun disejajarkan dengan penembak hebat dunia.


Dari pengakuan dunia tersebut membuat kita ingin kembali mengingat akan kehebatan pria kelahiran 12 Desember 1946 itu. Berikut 5 kehebatan Tatang Koswara sniper nomor wahid di Indonesia :

Tatang keluarkan peluru pakai gunting kuku

Sekitar 1975, Tatang saat itu masih berpangkat Sersan. Dia mendapat tugas buat bertempur di Timor Timur (kini Republik Demokratik Timor Leste). Perintahnya: menghabisi komandan lawan.
Baca Juga: MEMBANGGAKAN...! Inilah Para Penerus LEGENDA SNIPER dan PETEMBAK Terbaik Indonesia.
Sebagai penembak runduk, Tatang juga bertugas mengumpulkan informasi intelijen. Pada suatu ketika dia pernah apes lantaran tertembak saat sedang mengintai musuh.

"Saya seorang diri mengintai posisi musuh pukul 10.00 malam. Saat itu, saya mengamati posisi musuh dengan teropong malam untuk memberikan informasi pada pasukan yang akan menyerang keesokan harinya," kata Tatang seperti dikutip dari sebuah acara televisi swasta kemarin.

Tatang lantas menyusup ke daerah lawan. Di sebuah lokasi dia menemukan markas musuh. Dia mendekat dan berhenti pada jarak sekitar 300 meter. Saat itu dia melihat ada seorang komandan sayap militer Partai Fretilin, Falintil, menjadi targetnya. Tidak perlu menunggu, Tatang langsung membidik. Tetapi dia tidak langsung menembak.

"Saya sudah bidik dia dari malam. Tapi sniper itu beda dengan pasukan biasa. Harus sabar, harus cermat dan hati-hati," ujar Tatang.

Pukul 05.00 WIB, dia melihat targetnya bergerak sedikit menjauh dari induk pasukan. Dia berpikir hal itu kesempatan terbaik buat menghabisi musuh. Tatang menarik picu senapan. Sebutir peluru melesak dan mengenai sasaran. Sang komandan roboh.

Namun rupanya di lokasi ada sejumlah pasukan Fretilin melihat peristiwa itu. Mereka langsung mengarahkan senapan memberondong lokasi Tatang bersembunyi. Saat itulah Tatang tertembak.

"Saya tidak tertembak langsung. Peluru itu memantul kena kayu dan mengenai kaki saya. Awalnya tidak sakit, tapi terus mengeluarkan darah," lanjut Tatang.

Jika luka Tatang akibat tembakan terus mengeluarkan darah, maka bakal meninggalkan jejak. Hal ini sangat berisiko bagi penembak runduk karena harus meloloskan diri lokasi tanpa bisa dilacak. Alhasil dengan peralatan seadanya, Tatang melakukan operasi darurat dengan menggunakan gunting kuku. Dikoreknya luka itu dan diambilnya serpihan peluru. Semua dilakukan di tengah desingan peluru dan tanpa obat bius.

"Saya pakai gunting kuku," jawab Tatang.

Tembak burung terbang pun sniper Tatang Koswara tak meleset

Kemampuan menembak TNI (Purn) Peltu Tatang Koswara memang tidak diragukan lagi. Semasa hidup, dia dedikasikan untuk menembak. Kisah hebat tentang almarhum diceritakan Yana (40) salah satu keluarganya.

Dia sejak kecil sering diajak Tatang yang masuk dalam jajaran elit penembak dunia tersebut melihat caranya menembak.


Senapan angin yang ditenteng Tatang memperlihatkan memegang senjata yang benar. Nah, satu burung saat itu terbang di langit-langit. "Pistolnya diarahkan ke langit. Padahal si burung lagi terbang cepat. Dor! Kena itu burung. Padahal burungnya lagi terbang cepat," ungkapnya.
Baca Juga: Mengingat Pertempuran Sengit & Berdarah Kopassus Vs Tropaz, Pasukan "Bengis" Didikan Portugal.
Yana sangat membanggakan sosok pria kelahiran Medan tersebut. Kepribadiannya yang keras tapi baik dalam membimbing. "Huhh. Tegas sekali, galak bahkan, saya dulu kalau sekolah enggak makan pasti dimarahin. Tapi di balik itu beliau baik orangnya," jelasnya.

Indonesia harus bangga memiliki Tatang Koswara ini. Kemampuan menembak Tatang, tentu tidak kalah hebat dari Christopher Scott Kyle dari Amerika yang dikenal sangat mematikan itu.

Sniper urutan 14 di antara penembak dunia

Tatang Koswara dicatat sebagai penembak runduk terbaik nomor 14 di dunia. Kemampuannya itu pernah dibuktikan saat operasi militer di Timor-Timur. Prajurit dan perwira gerakan pengacau keamanan tewas tertembus peluru dari senjata miliknya Winchester 70.


Berkat kemampuannya itu, nama Tatang kemudian bertengger bersama sniper elite dari negara adidaya. Berikut urutan posisi Tatang Koswara di antara sniper dunia lain berdasarkan data yang dihimpun sniper history:

1. Simo Hayha (Finlandia) dalam operasi militer Perang Dunia II, korban 500 lebih.
2. Nikolay Yakovlevich (Rusia) dalam operasi militer Perang Dunia II, korban 496.
3. Ilyin Vasili Zaitsev (Rusia) dalam operasi militer Perang Dunia II. korban 400.
4. Matthias Hetzenauer (Jerman) dalam operasi militer Perang Dunia II. korban 345.
5. Sepp Allerberger (Jerman) dalam operasi militer Perang Dunia II, korban 257.
6. Billy Sing (Australia) dalam operasi militer Perang Dunia I, korban 150.
7. Adelbert Waldron III (Amerika Serikat) dalam operasi militer Perang Vietnam, korban 109.
8. Charles B. Mawhinney (Amerika Serikat) dalam operasi militer Perang Vietnam, korban 103.
9. Neville Methven (Afrika Selatan) dalam operasi militer Perang Dunia I, korban 100.
10. Carlos Hathcock (Amerika Serikat) dalam operasi militer Perang Vietnam, korban 93.
11. Helmut Wirnsberger (Jerman) dalam operasi militer Perang Dunia II, korban 64.
12. Joseph T. Ward (Amerika)dalam operasi militer Perang Vietnam, korban 63.
13. Philip G. Moran (Amerika)dalam operasi militer Perang Vietnam, korban 53.
14. Tatang Koswara (Indonesia) dalam operasi militer di Timor-Timur, korban 41.
15. Tom Ferran (Amerika) dalam operasi militer Perang Vietnam, korban 41.
16. William Lucas (Amerika) dalam operasi militer Perang Vietnam, korban 38

Pernah tewaskan puluhan musuh

Almarhum Tatang Koswara menceritakan kisahnya saat bertugas dalam konflik di Timor Timur (kini Republik Demokratik Timor Leste) sekitar 1975. Waktu itu dia masih berpangkat sersan, selepas menjalani pendidikan bersama Pasukan Khusus Angkatan Darat Amerika Serikat atau dikenal dengan nama Green Berets.


Tatang ditugaskan di bawah Satuan Tugas Khusus memburu para pentolan Partai Fretilin dan sayap militernya, Falintil. Sebagai penembak runduk juga menjalankan tugas pengintaian dan mengumpulkan informasi buat kebutuhan intelijen. Tatang sering masuk jauh ke daerah lawan buat memburu musuh seorang diri. Kadang dia menyusup dengan berjalan kaki, kadang diantar helikopter.
Baca Juga: GARANG dan DAHSYAT...! Auman MBT Leopard 2RI, Tank Terbaru TNI AD..!
Dalam satu misi, dia membawa 50 peluru. 49 Pelor dihabiskan buat menewaskan musuh, termasuk duel dengan sniper lawan. Tetapi Tatang patuh pada doktrin, yakni sengaja menyimpan sebutir peluru.

"Sesuai apa yang diajarkan, peluru terakhir itu digunakan untuk diri saya sendiri. Daripada saya jatuh ke tangan musuh, lebih baik menembak diri sendiri," kata Tatang seperti dikutip dari sebuah acara televisi swasta kemarin.

Bila keadaan terdesak, penembak sniper memang diajarkan menembak diri sendiri daripada tertangkap musuh dan disiksa buat menggali informasi. Setiap sniper juga diwajibkan menghancurkan senjata miliknya dan memecahkan teleskop bidik bila sudah terkepung.

"Senjata itu sangat akurat. Tak boleh sampai jatuh ke tangan musuh, harus dihancurkan," ujar Tatang.

Namun peluru terakhir itu tak pernah digunakan Tatang. Dia terus berdinas di TNI AD hingga pensiun.

The Riflemans Rifle, senjata sniper legendaris Tatang Koswara

Tatang tercatat sebagai penembak runduk terbaik peringkat 14 dunia. Kemampuannya menembak jarak jauh ini pernah dipraktikkan dalam operasi militer di Timor -Timur. Lewat bidikan senapannya tak terhitung prajurit lawan roboh bersimbah darah.

Keahlian menimang senapan runduk Tatang diperoleh lewat latihan keras. Kemampuan itu masih sempat dipamerkan di usia senjanya. Tatang memperlihatkan bidikan mautnya dengan menembak mati burung yang sedang terbang di langit mempergunakan senapan angin.

Sebenarnya senjata jenis apa yang ditenteng Tatang Koswara selama bertugas?


Peltu Tatang Koswara ternyata memakai senjata Winchester 70 seberat 8 kilogram. Senapan ini diproduksi tahun 1936 di New Haven, Connecticut, Amerika Serikat. Winchester 70 merupakan senapan dengan sistem bolt action yaitu memakai kokang dioperasikan secara manual.

Kehebatan Winchester 70 dikenal sejak tahun 1966 ketika meletus perang Vietnam. Kala itu, pasukan marinir Amerika menggunakannya untuk melawan kehebatan sniper Vietkong. Bahkan, saat itu militer Amerika membuka sekolah khusus sniper dan mengganti sniper M1C Garrand dan Springfiels yang biasa dipakainya dengan senapan Winchester 70 atau berjuluk The Rifleman's Rifle.

Baca Juga: 



Sumber: Merdeka.com

Sunday, January 1, 2017

Inilah Pasukan Elite TONTAIPUR. Laksana HORNET Raksasa Yang Mematikan...DAHSYAT..!



Patriot NKRI - Tontaipur merupakan pasukan elite yang berada di bawah Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad). Para anggotanya diambil dari kesatuan di bawah Kostrad, dan tidak semuanya bisa menjadi bagian dari pasukan ini.

Para prajurit yang bergabung wajib melalui pelatihan berat yang berlangsung selama tujuh bulan lamanya. Kualifikasi yang diberikan juga cukup tinggi, alhasil cuma 500 prajurit saja yang lulus, tak heran jika jumlahnya tak terlalu besar.


Sesuai namanya, para prajurit tak hanya dilatih untuk menguasai kemampuan darat saja, tapi juga laut dan udara. Seluruh latihan dilakukan di markas-markas pasukan elite yang dimiliki TNI, yakni latihan tempur di Gunung Sangga Buana, latihan intelijen/Sandha di Pusdik Passus, latihan teknik tempur bawah air di Satuan Pasukan Katak Armada RI Kawasan Barat dan latihan aplikasi latihan berganda di Situ Lembang.
Baca Juga: Mengagumkan..! Inilah Kehebatan SANG LEGENDA, SNIPER ELIT Berkaliber DUNIA Dari Indonesia..
Seluruh latihan ini untuk menguji kemampuan para prajurit agar efektif di medan tempur. Seluruh tahap tersebut tak cuma diperuntukkan bagi Tamtama, tapi juga Bintara maupun Perwira. Hingga kini, latihan berat Tontaipur hanya mampu meluluskan 100 personel dalam lima gelombang.

Tentara Elit

Kopassus bukanlah satu-satunya satuan elit angkatan darat yang dipunyai Indonesia. Ya, masih ada satu lagi pasukan spesial TNI-AD yang mungkin namanya jarang dikenal, tapi keahliannya juga luar biasa. Bahkan mungkin lebih greget dari Kopassus sendiri. Nama pasukan ini adalah Tontaipur yang artinya Peleton Intai Tempur.


Satuan satu ini tidak begitu dikenal karena jumlah anggotanya begitu sedikit. Tapi, meskipun sedikit, Tontaipur ibarat hornet di antara sekawanan lebah. Tahu hornet, kan? Lebah raksasa yang jumlahnya sedikit tapi sekali menyerang bisa membunuh ratusan ribu lebah. Sedikit tapi sangat mematikan.
Tontaipur terkonsentrasi di ranah darat. Alhasil, mereka sangat ahli di bidang ini lebih dari pasukan elit lainnya di Indonesia. Nah, masih tentang si pasukan elit satu ini, berikut adalah fakta-fakta sangar Tontaipur yang pasti bikin kamu bangga.

Tontaipur Isinya Adalah Manusia-Manusia Luar Biasa

Sama seperti pasukan elit lainnya, kualifikasi anggota Tontaipur ini lebih dari tentara biasa. Untuk bisa masuk ke dalamnya, seorang tentara harus menyanggupi syarat-syarat tertentu yang sangat berat. Mulai dari kemampuan fisik sampai inteligen.


Tontaipur sendiri isinya adalah anggota Kostrad yang terpilih melalui sebuah seleksi ketat dan berturut-turut. Setelah itu, masih dipilih-pilih lagi sehingga melahirkan anggota-anggota yang benar-benar berkualitas tinggi. Salah satu alasan kenapa Tontaipur anggotanya sedikit ya karena seleksi yang begitu ketat ini.
Baca Juga: Mengingat Pertempuran Sengit & Berdarah Kopassus Vs Tropaz, Pasukan "Bengis" Didikan Portugal.
Tontaipur Cuma Sedikit Tapi Benar-Benar Menggigit

Tontaipur memang hanya terdiri dari segelintir orang per angkatan, tapi bukan berarti mereka ecek-ecek. Meskipun hanya sedikit jumlah anggotanya, mereka itu benar-benar sangat mematikan. Kalau boleh diumpamakan, satu anggota Tontaipur mungkin sama hebatnya seperti 10-20 tentara biasa.


Jumlahnya yang sedikit sebenarnya adalah faktor yang disengaja. Gagasan ini berawal dari pengalaman para pendahulu TNI yang mengatakan jika dalam beberapa misi tertentu jumlah anggota yang sedikit jauh lebih efektif dan mematikan. Tapi konsekuensi dari jumlah yang sedikit ini adalah para anggotanya harus punya skill yang jauh lebih hebat. Kemudian dari gagasan tersebut tercetuslah Tontaipur.

Menengok Ngerinya Latihan Tontaipur

Setelah seleksi yang begitu ketat dan luar biasa, para anggota Tontaipur harus mengikuti sejumlah latihan-latihan untuk memantapkan skill mereka. Diketahui setidaknya ada empat tahap latihan yang harus mereka lakukan untuk menjadi seorang Tontaipur sejati.


Tahap pertama berupa latihan tempur di alam. Latihan ini bentuknya mirip simulasi perang dengan medan pertempuran berupa hutan atau pegunungan. Tahap selanjutnya adalah latihan intelijen. Di sini para anggota Tontaipur diajarkan rahasia-rahasia soal intelijen tempur. Tahap selanjutnya adalah latihan teknik tempur bawah air. Katanya di latihan ini mereka bekerja sama dengan para anggota Kopaska. Dan latihan yang terakhir adalah simulasi tempur yang menggabungkan semua latihan sebelumnya. Sungguh luar biasa! Tentara biasa pasti bakal ampun-ampunan dengan menu latihan macam begitu.
Baca Juga: [Video] Saktinya Prajurit TNI, Sampai Bikin Tentara Negara Asing Melongo..
Tontaipur, Jago Darat tapi Menguasai Tri Matra

Tointaipur secara umum memang ditempatkan di darat. Meskipun begitu, bukan berarti mereka nggak punya keahlian laut dan udara. Tontaipur diketahui sangat cakap hampir di semua tempat atau istilah militernya mereka menguasai apa yang dinamakan dengan Tri Matra.


Kenapa mereka bisa begitu, jawabannya jelas karena latihan. Mereka memang sering berdampingan dengan pasukan-pasukan elit lainnya agar bisa menguasai skill yang sama, baik di ranah udara maupun laut. Kemampuan Tri Matra Tontaipur ini pun membuat mereka bisa digabungkan di unit mana pun ketika dibutuhkan.

Tontaipur Dimanjakan dengan Alutsista Terbaik

Nggak hanya skill yang membuat Tontaipur itu sangar, tapi juga dukungan alutsista yang mereka punyai. Selama ini Tontaipur selalu diservis dengan deretan alutsista nomor wahid yang dimiliki republik ini. Mulai dari senjata-senjata tempur terbaik, sampai perlengkapan perang lain macam body armor nomor satu dan night vision.


Tidak hanya terbatas senjata dan perlengkapan tempur, mereka ini juga didukung oleh kendaraan-kendaraan perang terbaik. Alhasil, Tontaipur pun benar-benar sangat mematikan. Ibaratnya mereka ini mewakili kekuatan militer Indonesia itu sendiri. Mereka sangat komplit dan mematikan. Ada ujaran yang mengatakan kalau Indonesia sebenarnya cukup mengirim Tontaipur saja ketika terjadi perang. Mereka pasti bisa menang karena kemampuan lengkap yang dimilikinya.

Baca Juga: Heroik dan Inspiratif..! Kisah 8 Para Raider-305 Tengkorak Taklukkan Lawan di Timor-Timur

Sumber: viva.co.id

GARANG dan DAHSYAT...! Auman MBT Leopard 2RI, Tank Terbaru TNI AD..!


Patriot NKRI - Dari sosok luarnya, Leopard 2RI sudah nampak berbeda dibandingkan dengan Leopard 2A4 yang sudah terlebih dahulu datang. Jika Leopard 2A4 tampil mengotak dengan garis-garis tegas, maka Leopard 2RI tampil dinamis dengan modul-modul AMAP menghias hull dan kubah.


Jika setelah sekian lama hanya bisa menduga-duga, selubung misteri Leopard 2RI kini terbuka sudah, dari sosok penampilannya kita bisa menduga opsi kit apa saja yang akhirnya dipilih TNI AD. Tidak semua paket upgrade Leopard Revolution dipilih, hanya yang benar-benar diperlukan saja yang dipasangkan ke tubuh Leopard 2A4 untuk mengubahnya menjadi Leopard 2RI.
Inti dari perlindungan Leopard 2RI adalah lapisan blok komposit AMAP (Advanced Modular Armour Protection) buatan IBD (IngenierBüro Deisenroth)-Deisenroth. Konsepnya adalah perlindungan 360 derajat, dimana Leopard 2 Revolution harus bisa dilindungi dari segala sisi. Hal ini menyesuaikan dengan tren dimana tank digunakan dalam situasi urban, ancaman senjata seperti roket dan rudal antitank jauh lebih mengemuka. IBD Deisenroth membuat proteksi pasif alias proteksi balistik sangat canggih.

Barisan MBT Leopard 2RI TNI AD di Natuna

Iring iringan MBT Leopard 2RI TNI AD di Natuna
Bobot keramik nano ini saat dikonfigurasikan menurut standar proteksi NATO STANAG 4569 Level 3 atau 4/ AEP 55 Level 3. Keping AMAP dibangun dan disusun menjadi blok AMAP-B (Ballistic) yang dipasangkan ke side skirt, glacis, dan keseluruhan kubah termasuk sisi atas dan pangkal laras Leopard 2RI. Panel-panel ini didesain dengan fitur engsel untuk memudahkannya dibuka, dilepas, dan dilakukan perawatan sekaligus penggantian secara terbatas.

Biarpun bentuk panel AMAP mengotak, sesungguhnya isinya kosong. Ruang kosong memungkinkan energi dan inti panas dari hulu ledak HEAT yang menghantam AMAP untuk menyebar dan tidak menembus kulit asli tank. Lampu sorot depan Leopard 2RI mempertahankan bentuk aslinya yang membulat dan dipasang di atas glacis, beda dengan paket Revolution yang menggunakan lampu LED dan sudah ditanam di glacis.

Di atas glacis terpasang kotak SAS (Situational Awareness System) berupa kamera dengan fitur night vision agar pengemudi dapat mengendalikan kendaraan dengan mudah, tidak lagi mengandalkan blok prisma yang terbatas kemampuannya. 

Uniknya, pemasangan AMAP-B tidak diteruskan sampai ke belakang. Pada Leopard 2RI dibiarkan kosong, hanya dipasangi kit track cadangan di sebelah kiri. Paket Revolution menyediakan slat armor alias pagar untuk menangkis RPG-7, tetapi opsi ini tidak dipergoki pada Leopard 2A7. 
Mungkin karena sifatnya yang sederhana slat armor ini dapat dipasang kemudian oleh PT Pindad sebagai bagian dari ToT alias Transfer Teknologi, sama seperti kontrak yang diterima PT Pindad untuk memasang sistem pendingin udara pada Leopard 2A4.

Di sebelah kanan terdapat kotak yang diduga merupakan inlet dari APU (Auxiliary Power Unit) berupa mesin diesel cadangan yang dapat digunakan memutar kubah. Leopard 2RI dapat beroperasi secara senyap saat mengintai mangsa, mematikan mesin utama dan mengandalkan APU yang suaranya lebih tenang sehingga heat signature Leopard 2RI menurun drastis dan lawan tidak bisa mendengar suara Leo 2RI sampai semuanya sudah terlambat. Varian Leopard 2SG yang diugrade ke standar Evolution oleh Krauss Maffei Wagmann tidak memiliki fitur APU tersebut.


Untuk sistem senjata, Leopard 2RI tetap mengandalkan meriam 120mm L44, yang tidak diubah. Yang dimodifikasi adalah sistem turret drive yang kini sudah sepenuhnya elektrik, menawarkan keunggulan lebih aman, lebih ajek, dan lebih senyap.

Sistem kubah remote tidak terlihat terpasang pada Leopard 2RI. Juga tidak terpasang pada Leopard 2RI adalah sistem ROSY (Rapid Obscuring System).

Pada dasarnya sistem ROSY merupakan gabungan integral antara IR Jammer/ decoy dan pelontar granat asap, yang bisa memicu pelontaran granat asap secara otomatis apabila terdeteksi adanya rudal antitank atau ancaman lain yang mendekat.

Leopard 2RI masih mengandalkan sistem pelontar granat asap konvensional yang dipasang di kiri-kanan kubah belakang. Paling penting dari sebuah tank adalah, kenyamanannya. Untuk itulah Leopard 2RI sudah dilengkapi sistem pendingin udara yang dipasang di belakang bustle, dengan inlet udara dari sisi atas yang dilindungi kawat baja.

Untuk kamera panoramik, komandan Leopard 2RI masih akan mengintip dari sistem kamera PERI R-17, dimana Leopard 2RI kelihatan tidak mengambil opsi kamera panoramik SEOSS yang ditawarkan dalam paket Revolution.

Leopard 2RI tiba di tanah air pada Senin (23/5) di dermaga Tanjung Priok. Rencananya kedelapan Leopard 2RI akan menghuni Batalion Kavaleri 1/ Tank Badak Ceta Cakti di Cijantung, menggantikan tank mini Scorpion-90.

Sumber: angkasa.co.id