Tuesday, December 20, 2016

Heroik dan Inspiratif..! Kisah 8 Para Raider-305 Tengkorak Taklukkan Lawan di Timor-Timur


Patriot NKRI - Di balik nama besar Batalyon Infanteri (Yonif) Para Raider-305/‘Tengkorak’, terdapat sebuah kisah heroik nan membanggakan dari ‘Tim Sadelor’ yang dipimpin Serda Paidjan saat menjalankan Operasi di Timor-Timur. Nama ‘Sadelor’ merupakan akronim dari ‘Satuan Delapan Orang’, dan keberhasilan tim ini menjalankan tugas mampu menginspirasi prajurit-prajurit lainnya di satuannya, Yonif Para Raider-305.
Alkisah, bermula saat Paidjan lulus pendidikan Sekolah Calon Bintara (Secaba) Kilat Infanteri Kostrad (Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat) pada tahun 1987. Saat itu, banyak yang meremehkan prajurit-prajurit yang lulus dari Secaba yang disebut ‘Secaba Timun’ ini.

Merasa tertantang, Paidjan kemudian bertekad untuk membuktikan bahwa apa yang dikatakan orang-orang yang meremehkan lulusan Secaba adalah sebuah pandangan yang salah. Beberapa bulan kemudian Yonif Para Raider-305/Tengkorak mendapat perintah untuk melancarkan Operasi di Timor-Timur, dan Paidjan. Saat itu Batalyon ini dikomandani oleh Letkol Inf. Amir Abdul Kadir dan Mayor Inf. Adam Damiri sebagai Wakilnya.

Saat melaksanakan latihan pra-tugas, terbersit di pikiran Paidjan untuk mewujudkan tekadnya, membuktikan bahwa lulusan Secaba angkatannya bukan Secaba Timun. Namun ia pun tak sendiri, Paidjan dibantu oleh beberapa orang rekannya.

Muncul ide untuk membentuk satuan kecil yang andal untuk menjadi tim pemukul Batalyon Tengkorak dalam melaksanakan Operasi tersebut, walaupun pada saat itu Batalyon ini telah membentuk tim khusus yang dipimpin Kapten Inf. Joko Setiono dengan nama ‘Tengkorak’.

Berangkat Ke Medan Pertempuran

Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Batalyon ini pun akhirnya diberangkatkan ke medan pertempuran menggunakan Kapal TNI Angkatan Laut (AL).

Demi mewujudkan tekadnya, akhirnya Paidjan bersama tujuh orang rekannya memberankan diri untuk meminta persetujuannya kepada Danyon dan Wadanyon tentang idenya untuk membentuk satuan pemukul guna mendukung kesuksesan misi Batalyon ini di medan laga.

Ide Paidjan untuk membentuk tim pemukul terinspirasi dari Yonif Para Raider-502, yang pernah membentuk tim pemukul dalam satuan kecil yang tenar dengan nama ‘Dua Belas Jagoan’ dan terbukti efektif.

Sementara itu, tim pemukul yang dikomandoi Paidjan berjumlah delapan orang yang memiliki tekad yang sama, kesatuan hati, memiliki kapabilitas dan siap untuk menderita.
Melalui diskusi dan perbincangan, akhirnya Danyon pun menyetujui usulan Paidjan. Keputusan Danyon didukung oleh para Danki (Komandan Kompi) yang merelakan anggotanya bergabung dengan Paidjan.

Bukan sembarang tim, Tim Sadelor berisikan prajurit-prajurit yang andal pada bidangnya masing-masing. Paidjan dipercaya oleh rekan-rekannya sebagai Komandan Tim sekaligus sebagai penembak runduk. Sertu Beni Indik M dan Serda Saikan memiliki kecakapan pada bidang kesehatan/medis. Serda Suhardi berperan sebagai penembak sekaligus supir. Koptu Waras Suwardi, Koptu Siswandi dan Kopda Sutrisno berperan sebagai tayanrad. Tak ketinggalan Kopda Wasis juga ikut andil dalam tim ini.

Patahkan Mitos

Meskipun banyak yang meragukan dan memandang sebelah mata tim yang dibentuk Paidjan, namun Tim Sadelor berhasil mematahkan anggapan remeh tentang mereka. Terbukti setibanya di Dili dan berkumpul di Baucau, tim Sadelor pun mampu lakukan gerak penyisiran ke arah pos masing-masing.

Tim Sadelor menjadi tim yang pertama memperoleh hasil, yakni satu pucuk Mousser, satu GPK tewas dan satu GPK lainnya berhasil ditawan. Tak putus sampai di situ, disusul dengan pertempuran perjumpaan (purpa), tim ini kembali menawan satu GPK dan satu pucuk senapan Getmi.

Keberhasilan Tim Sadelor dalam menaklukkan lawannya sontak menjadi inspirasi bagi tim lainnya. Banyak Dantim yang kemudian bertanya-tanya dan berdiskusi dengan Paidjan mengenai taktik dan teknik yang ia jalankan sehingga tim yang ia bentuk meraup keberhasilan dalam operasi tersebut.

Berkat adanya Tim Sadelor, Yonif Para Raider-305 menjadi Satuan yang memperoleh hasil nyata terbanyak dalam penugasan di Timor-Timur kala itu.
Sumber: angkasa.co.id

Legendaris..! Generasi Terakhir Penunggang Kuda Liar P-51 Mustang


Patriot NKRI - Pesawat Buru Taktis berawak tunggal ini mampu melesat ke udara dengan mengangkat beban seberat 7.000 Kg dengan kecepatan jelajah 735 Km/jam. Pesawat yang lebih dikenal dengan sebutan ‘Cocor Merah’ ini dipersenjatai dengan enam pucuk browning kaliber 12,7 mm, delapan buah roket launcher dan dua buah bom.

Sang ‘Kuda Liar’ P-51 Mustang buatan pabrik pesawat North American (sebelumnya bernama General Aviaton) ini merupakan pesawat pemburu era Perang Dunia II yang sangat melegenda buatan Amerika Serikat. Di Indonesia Alumni Akademi Angkatan Udara Angkatan ’69 dan Angkatan ’70 pernah menggunakan pesawat ini dalam menjaga stabilitas keamanan Tanah Air. Merekalah sang legenda, karena merekalah generasi terakhir penunggang P-51 Mustang di Indonesia.
Dengan karakteristik dan kemampuannya itu, P-51 Mustang masuk ke dalam kekuatan Skadron Udara 3 sebagai salah satu kekuatan pemburu yang berada di bawah kendali Wing Udara 3 Tempur yang berpangkalan di Skadron Cililitan (sekarang Skadron Udara 3 berada di Lanud Iswahyudi, bermarkas di Maospati, Kabupaten Magetan, Jawa Timur).

Ketika mengunjungi kediaman mantan Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional (Pangkohanudnas) periode 1997-1999 Marsekal Muda TNI (Purn) M Koesbeni yang juga salah satu pelaku sejarah penunggang ‘Cocor Merah’ yang tersisa beberapa waktu lalu, beliau menunjukkan foto kenangan bersejarah saat berpose bersama Angkatan ’69 dan Angkatan ’70 dengan latar P-51 Mustang.

Sambil menunjukkan foto tersebut, beliau mengatakan kepada Pimpinan Redaksi Majalah Angkasa Beny Adrian dan Reporter Fery Setiwan, “Orang-orang ini mas, generasi terakhir pilot-pilot penempur AU yang menerbangkan Mustang. Foto ini diambil kira-kira tahun 1972, nah yang ambil gambar si Mukti (Letkol Purn. Abdul Mukti). Karena dia yang ambil gambar, jadi dia enggak ada di foto,” ungkap sang Purnawirawan Jenderal Bintang Dua kepada kami.

Tak lupa, beliaupun menyebutkan nama-nama para penempur P-51 Mustang generasi terakhir dalam foto itu satu per satu. “Yang berdiri ini mas, ini Angkatan ’69 termasuk saya sama Mukti yang ambil gambar ini. Nah yang duduk, ini Angkatan ’70, nah yang terakhir ini mantan Pangkoops II (Panglima Komando Operasi II). Danskadronnya waktu itu al Marhum pak Rukandi (alm. Marsda TNI Purn. Rukandi),” tuturnya yang menjelaskan kepada kami.
Sumber: angkasa.co.id

Cerdas 5 Menit: Kisah Patriotik Pahlawan Dibalik Lembar Uang Baru


Patriot NKRI - Bank Indonesia secara resmi telah mengeluarkan seri uang baru pada Senin, 19 Desember 2016--bertepatan dengan peringatan atas agresi militer Belanda pertama 19 Desember 1948 dan juga pencanangan gerakan Trikora 19 Desember 1961.

"Di dalam setiap lembar rupiah kita tampilkan gambar pahlawan nasional, tari nusantara dan pemandangan alam Indonesia sebagai wujud kecintaan kebudayaan dan karakteristik bangsa Indonesia. Karena itu saya mengajak setiap insan di Tanah Air perlu terus mencintai rupiah dengan cara-cara yang nyata," kata Presiden Joko Widodo  saat meresmikan pengeluaran dan pengedaran uang rupiah emisi 2016 di Bank Indonesia, Jakarta, Senin ini.

Adapun nama-nama pahlawan dalam seri uang terbaru itu antara lain:

Dr (H.C.) Ir. Soekarno dan Dr (H.C.) Drs Mohammad Hatta--pecahan Rp100.000 (seratus ribu rupiah)

Dwi Tunggal Soekarno-Hatta dikenal sebagai proklamator kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Keduanya merupakan Presiden dan Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia. 

Ir H. Djuanda Kartawidjaja--pecahan Rp50.000 (lima puluh ribu rupiah)

Ir Djuanda, demikian diplomat asal Sunda ini akrab disebut, merupakan sosok yang berhasil menyatukan wilayah NKRI melalui Deklarasi Djuanda tahun 1957. Dalam deklarasi itu disebutkan bahwa laut di sekitar, di antara dan di dalam kepulauan Indonesia merupakan satu kesatuan dengan wilayah Indonesia. Lantaran itu Indonesia disebut sebagai negara kepulauan dalam konvensi hukum laut United Nations Convention on Law of the Sea (UNCLOS). 

Dr G.S.S.J. Ratulangi --pecahan Rp20.000 (dua puluh ribu rupiah)

Sam Ratulangi merupakan tokoh pergerakan nasional dari wilayah Indonesia Timur. Ia sejak muda dan sudah menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat) yang rajin menentang kebijakan pemerintah kolonial yang merugikan rakyat Indonesia. 

Frans Kaisiepo--pecahan Rp10.000 (sepuluh ribu rupiah)

Frans Kaisiepo pernah menjadi tahanan politik Belanda karena menolak penunjukkan dirinya sebagai wakil Belanda untuk Wilayah Nugini (Papua dan Papua Nugini) dalam Konferensi Meja Bundar. 

Dr K.H. Idham Chalid--pecahan Rp5.000 (lima ribu rupiah)

Idham Chalid merupakan tokoh dari Nahdlatul Ulama yang turut berjuang dalam masa-masa pendudukan Jepang di Indonesia. Tokoh Masyumi awal ini juga turut berkiprah dalam kabinet Indonesia sampai masa orde baru.

Mohammad Hoesni Thamrin--pecahan Rp2.000 (dua ribu rupiah)

Tokoh asal Betawi ini punya jasa besar dalam penghapusan diskriminasi buruh pada masa kolonial. Thamrin dan koleganya di Dewan Rakyat (Volksraad) berjuang untuk penghapusan Poenale Sanctie--sebuah ordonansi (undang-undang) mengenai kuli yang dimunculkan pada 1880 dan diperbarui pada 1889. Dalam ordonansi ini, pemerintah kolonial memberikan wewenang kepada perusahaan perkebunan untuk memberi hukuman pada kuli yang melanggar kontrak. Jika kuli dianggap melanggar kontrak atau malas bekerja, kuli tadi boleh diberi hukuman tanpa melalui proses peradilan. 

Tjut Meutia--dengan pecahan kertas Rp1.000 (seribu rupiah)

Tjut atau Cut Meutia merupakan satu dari sekian banyak perempuan Aceh yang berjuang melawan kolonialisme Belanda di Tanah Rencong. Ia memimpin gerilya di hutan-hutan Aceh untuk mengobarkan perlawanan.

Mr. I Gusti Ketut Pudja--pecahan logam Rp1.000 (seribu rupiah)

Tokoh asal Bali ini menjadi ikut serta dalam perumusan negara Indonesia melalui Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mewakili Sunda Kecil (saat ini Bali dan Nusa Tenggara).

Letnan Jenderal TNI (Purn) Tahi Bonar Simatupang--pecahan Rp500 (lima ratus rupiah).

TB Simatupang, satu dari sekian banyak jenderal asal Batak, pernah menjabat sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Perang. Dalam masa-masa mempertahankan kemerdekaan ia menjadi salah satu pilar penentu strategi perang saat itu di daerah Banaran, Kulon Progo, Yogyakarta. 


Dr Tjiptomangunkusumo--dengan pecahan Rp200 (dua ratus rupiah).

Eugene Francois Douwes Dekker, bersama Tjipto Mangunkusumo dan Ki Hadjar Dewantara, mendirikan Indische Partij pada 1913. Partai itu menampung semua golongan dan ras yang ada di Hindia Belanda. Ia termasuk tokoh pergerakan Indonesia di awal abad 20.

Prof Dr Ir Herman Johanes--pecahan Rp100 (seratus rupiah).

Herman Johannes seorang ahli fisikawan dan kimiawan Indonesia. Keahliannya membantu para pejuang untuk dalam melakukan aksi militer seperti meledakkan sejumlah jembatan guna menahan gerak pasukan Belanda. 

Sumber: tirto.id

Terungkap..! Asal-Usul Pisau Kopassus Yang Fenomenal. Ngeri dan Mematikan!


Patriot NKRI - Kopassus memang identik dengan pisau berbilah dua. Tapi tidak banyak yang tahu soal pisau ini. Kenapa kehadirannya begitu fenomenal di dunia pasukan khusus, terutama di kalangan Kopassus. Pernah lihat gapura bentuk pisau kalau masuk ke wilayah Kopassus di Cijantung, atau pernah lihat tugu pisau komando di pantai Permisan Cilacap tempat pembaretan prajurit Kopassus, Atau gambar pisau yang ada di salah satu logo Kopassus?

Namanya Fairbairn & Sykes. Ide pembuatannya muncul dari William Ewart Fairbairn yang saat itu mendapat tugas khusus sebagai kepala polisi di Shanghai, Tiongkok. Menurut buku Weapon, a Visual History of Arms and Armours, di tahun 1930-an terjadi banyak pertempuran antar geng di Shanghai. Fairbairn berpikir, anggotanya harus dibekali sebuah senjata beladiri jarak dekat.
Bersama salah satu partnernya di kepolisian Shanghai yang bernama Eric Anthny Sykes mereka membuat sebuah pisau berbilah dua dengan penampang yang tidak terlalu lebar, namun panjang. Panjang pegangannya mencapai 10 cm, sedangkan panjang bilah pisaunya mencapai 18 cm.

Tidak seperti pisau pada umumnya, pisau Fairbairn & Sykes dibuat bukan untuk mengiris, melainkan menusuk. Bilah pisaunya didesain agar bisa menembus sela-sela tulang iga manusia, sehingga bisa langsung menusuk jantung musuh.

Tidak cuma menciptakan pisau, Fairbairn dan Sykes kemudian juga menciptakan sebuah teknik beladiri dengan pisau buatannya yang mereka beri nama “Defenfu System”. Saat Fairbairn ditarik pulang ke Inggris, ia mendapat perintah untuk memberikan pelatihan Defendu System kepada anggota pasukan khusus Inggris.


Kenapa pisau Fairbairn & Sykes malah beken di AS? Saat Perang Dunia II meletus dan AS mulai mempersiapkan militernya ke medan perang, Fairbairn ditugasi ke AS untuk memperkenalkan pisau ini kepada Office of Strategic Services (OSS). OSS adalah agen intelijen AS di masa Perang Dunia II. AS menilai pisau buatan Fairbairn ini sangat efektif untuk digunakan oleh agen intelijen mereka.

Pisau Fairbairn & Skyes kemudian menjadi idola di kalangan pasukan khusus dunia. Royal Marines, 1st Independent Parachute Brigade Plandia, ParaCommando Brigade Belgia, Grup Gerak Khas Malaysia, dan pasukan Komando Singapura adalah beberapa pengguna setia psau ini.

Kehadirannya di Indonesia sendiri tidak terlalu jelas. Beberapa literatur menyebut bahwa pisau ini diperkenalkan di masa-masa awal Kopassus saat masih menyandang nama Kopassandha. Tapi siapa yang membawa pisau Fairbairn & Skyes ini tetap tidak jelas. Yang jelas, pisau ini telah menjadi saksi mata tangguhnya pasukan baret merah di dalam perjalanan bangsa ini.
Sumber: angkasa.co.id

Mengenang 68 Tahun Agresi Militer Belanda II: Operasi "Gagak" Menduduki Yogyakarta, Ibu Kota Republik.


Patriot NKRI - Tepat 68 tahun lalu, menjelang hari Minggu, 19 Desember 1948, ibukota republik yang saat itu berada di Yogjakarta diduduki oleh militer Belanda. Tak hanya itu, mereka pun menjadikan para pemimpin republik ini yang saat itu berada di sana sebagai tawanan mereka.

Letjen Simon Hendrik Spoor sebagai panglima tertinggi tentara Belanda di Indonesia, memberikan instruksi pada seluruh tentara Belanda yang berada di Jawa dan Sumatera untuk memulai penyerangan ke Yogyakarta. Serangan yang dilakukan oleh Belanda ini kemudian dikenal dengan sebutan Clash II atau Agresi Militer Belanda II.

Sabtu malam, Spoor didampingi Panglima Divisi C Mayjen Engels menghampiri pasukan para (penerjun) pilihan di sebuah hanggar Pangkalan Udara Andir, Bandung.

Serangan yang juga dikenal sebagai Kraii Operatie atau Operasi Gagak merupakan operasi pamungkas yang dilakukan Belanda terhadap Indonesia. Belanda mengerahkan pasukan baret merah terbaiknya untuk diterjunkan ke Maguwo.

“Tugas kalian, membebaskan Yogyakarta dari tangan ekstremis serta menangkap Sukarno bersama pengikutnya,” kata Spoor, seperti ditulis Julius Pour dalam Doorstoot naar Djokja (2009),

Setelah pasukan-pasukan penerjun Belanda menaiki pesawat C-47 Dakota pada pukul 4:20 pagi, mereka langsung bergerak menuju drop zone usai menerima laporan dari pesawat pemburu Belanda yang sukses melakukan serangan pembuka di ibukota.

Pada pukul 6:45, satu kompi pasukan baret merah Belanda (Dutch Paratrooper) mulai melompat dari Dakota yang membawa mereka. Dalam kurun waktu 25 menit, mereka berhasil melumpuhkan 150 tentara Indonesia yang menjaga Pangkalan Udara Maguwo, tulis Jaap de Moor dalam Westerling’s oorlog (1999). Pertarungan tersebut berhasil menewaskan 128 tentara Indonesia yang menjaga pangkalan itu, sementara dari pihak Belanda tak ada satu korban pun yang jatuh.

Mereka pun segera membersihkan pangkalan Maguwo agar Dakota yang mereka gunakan dapat mendatar. Di titik yang sama, pesawat yang mengangkut pasukan baret hijau Belanda (dahulu dipimpin Kapten Raymond Westerling) dari Semarang juga mendarat. Jumlah kedua pasukan tersebut sekitar 432 personel  dan dipimpin Letnan Kolonel van Beek.

Seperti tertulis  Dalam Yogyakarta, 19 Desember 1948 (2006), moral pasukan Belanda dalam Aksi Polisionil II itu dipenuhi optimisme tinggi. Mereka berhasil menembus pertahanan darat TNI di garis demarkasi yang dipasangi rintangan berat oleh Divisi II Gunungjati. Brigade Tijger, terutama Korps Speciale Troepen (korps pasukan khusus militer Belanda) bergerak di sisi selatan rel kereta api dan menyusun serangan dengan membagi tiga kolone.

“Kolone-kolone itu memakai taktik pasukan komando dalam kelompok-kelompok kecil, membawa banyak persenjataan otomatis serta komunikasi yang baik,” tutur Himawan Soetanto dalam buku itu.

Kira-kira pukul 15:00, pasukan yang dikomandoi van Beek tiba di depan Istana Gedung Agung, sebelah selatan Malioboro. Di sana hanya terdapat Kompi II Corps Polisi Militer (CPM) yang dipimpin Lettu Susetio. Tak imbang kuantitas serta tanpa bala bantuan, kondisi pasukan Susetio makin terjepit dalam aksi tembak-menembak.

Seorang anak buah Susetio, Letnan Dua Sukotjo Tjokroatmodjo, mengusulkan kepadanya untuk segera membawa pergi Presiden Soekarno dan jajaran pejabat sipil lain keluar dari Istana, sementara itu Sukotjo bersama 30 personel CPM lainnya akan bertempur melawan tentara Belanda.

Namun Soekarno malah memberi perintah kepada Susetio untuk berhenti menembak, sambil menunggu kedatangan van Beek di depan Istana. Kala itu Soekarno didampingi Kepala Staf Angkatan Udara Soerjadi Soerjadarma, Sekretaris Negara Mohammad Ichsan, dan Menteri Luar Negeri Agus Salim.

Letkol van Beek pun menemui Soekarno. Setelah memberi hormat, van Beek berkata: “Anda sekarang dalam tahanan rumah. Tuan Soekarno, saya mendesak kepada Tuan supaya Tuan memerintahkan kepada pasukan-pasukan Tuan agar menyerah. Jika tidak melakukannya, saya jamin kepada Tuan bahwa seluruh tentara Tuan akan dihancurkan dalam satu minggu.”

Rosihan Anwar dalam Musim Berganti (1985) menyebutkan, serangan di hari Minggu itu melicinkan militer Belanda menguasai kantor telepon pada pukul 11 siang. Satu jam kemudian mereka berhasil merebut gedung Radio Republik Indonesia (RRI) dan pada pukul 15:30 seluruh kota telah berhasil dikuasai militer Belanda.

Bersama Wakil Presiden Mohammad Hatta beserta para pejabat tinggi lain di Yogyakarta, Soekarno dibawa tentara Belanda dan diasingkan ke Sumatera. Sementara Panglima Besar Soedirman dan sekelompok tentara beserta dokter pribadinya, lebih memilih untuk melakukan perang gerilya di luar kota.

Sumber: angkasa.co.id

Menegangkan..! Merebus Sepatu Lars Untuk Dimakan Hingga Tergantung di Atas Pohon. Kisah PGT dan RPKAD Merebut Irian Barat


Patriot NKRI - Berhentiiiiiiiii! “Saya balik kanan, saya pikir akan digorok, tapi rupanya mereka tercekat melihat saya.” “ANAK-ANAK, JANGAN LUPA SUMPAH PRAJURIT DAN SAPTA MARGA.” Nasehat ini disampaikan Panglima Mandala Mayjen TNI Soeharto pada malam keberangkatan pasukan, setelah menginap beberapa malam di Ambon. Dalam penerjunan itu, KU I Sahudi bertindak sebagai komandan regu, yang salah satu anak buahnya adalah Godipun.

Sesuai surat yang ditandatangani Panglima Mandala pada 11 April 1962, telah dikeluarkan Perintah Operasi penerjunan PGT (Pasukan Gerak Tjepat) dan RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat). Kedua pasukan digabung di bawah satu komando untuk penerjunan pada 26 April di sebuah dropping zone di wilayah Fak-Fak dan Kaimana. Penerjunan ini merupakan infiltrasi udara pertama yang akan dilakukan tentara Indonesia di wilayah Irian Barat dalam rangka Operasi Trikora untuk membebaskan Irian Barat dari Belanda.

Pada saat Operasi Banteng Ketaton dilaksanakan menggunakan enam pesawat Dakota, pada pagi hari itu juga 26 April, diterbangkan pembom B-25 Mitchel dan dua pemburu P-51 Mustang sebagai pengawal. Seperti ditulis di buku 52 Tahun Infiltrasi PGT di Irian Barat (2014), penerbangan ini dilakukan untuk memantau keamanan jalur penerbangan sekaligus penipuan (deception flight).
Belanda tidak menduga Indonesia mampu melakukan infiltrasi melalui udara. Menurut mereka, rimba Irian Barat yang begitu rapat dan perawan, sangat tidak mungkin dijadikan pangkalan gerilya. Dalam operasi penerjunan pertama ke wilayah Irian Barat, kepada penerjun diinstruksikan agar menyusup ke daerah lawan dan sedapat mungkin menghindari kontak senjata. Tujuannya adalah untuk mengacaukan situasi dari dalam, sekaligus menarik perhatian Belanda agar tertuju ke wilayah daratan (tengah) sehingga pasukan kawan yang akan mendarat di pantai (daerah pinggir) dapat masuk lebih leluasa.

Di samping itu mereka mendapat tugas merusak radar di Kaimana. Untuk mendukung penyamaran di hutan, mereka mengenakan overall warna hijau tanpa pangkat. Setelah kejadian-kejadian ini, militer Belanda mulai guncang dan tidak yakin lagi atas pertahanan udaranya, karena dengan mudah bisa ditembus oleh Dakota.

Pagi hari, 15 April 1962, Kolonel Udara Wiriadinata didampingi SMU Picaulima dan KU I Atjim Sunahju, dipanggil Men/Pangau Laksamana Udara Omar Dhani. Dalam pertemuan itu Men/Pangau memberitahukan bahwa Picaulima bersama 18 anggota PGT akan diterjunkan di Irian Barat. Keesokan harinya ke-19 anggota PGT ini sudah diterbangkan ke Ambon menggunakan Hercules. Di sana mereka diterima Wakil Panglima Mandala, Komodor Udara Leo Wattimena. Beberapa hari kemudian, tepatnya 25 April, ke-19 anggota PGT ini diterbangkan ke Lanud Amahai, dan di sana sudah ada anggota RPKAD.

Pagi itu sekitar pukul 10 waktu setempat, 25 April, flight C-47 Dakota yang terbang dari Kupang mendarat di Lanud Pattimura. Pesawat ini berangkat dari Lanud Halim sehari sebelumnya. Tak lama kemudian digelar briefing dipimpin Panglima Mandala Mayjen Soeharto didampingi Komodor Leo Wattimena. Briefing yang berlangsung di Gedung Teknik Umum (gedung diesel) Lanud Pattimura itu dihadiri oleh pilot Dakota yang akan mendapat tugas menerjunkan pasukan PGT dan RPKAD di Fak-Fak dan Kaimana. Sejumlah warga berusia lanjut di sekitar Lanud Pattimura yang pernah Angkasa temui, masih mengingat momen ini, saat Soeharto memberikan taklimatnya.
Dalam briefing siang itu dijelaskan bahwa tugas penerbang adalah menerjunkan pasukan ke daerah yang sudah ditentukan. Beberapa penerbang terlihat kaget, namun cepat menyesuaikan diri. Pasukan yang akan diterjunkan di Kaimana diminta langsung menuju ke pesawat untuk diterbangkan ke Langgur dan istirahat sampai waktu yang ditentukan. Sebelum lepas landas dari Pattimura, Soeharto dan Leo memberikan ucapan selamat kepada pasukan yang dipimpin Lettu Inf Heru Sisnodo dari RPKAD.

Operasi dibagi atas dua penerbangan yang lepas landas dari Lanud Amahai, dengan pentahapan Operasi Banteng I (Banteng Putih) menerjunkan pasukan di Fak-Fak, dan Operasi Banteng II (Banteng Merah) di Kaimana. Penerjunan di Fak-Fak dipimpin Letda Inf Agus Hernoto, sedangkan di Kaimana dipimpin Lettu Heru Sisnodo. Bersama mereka juga diikutkan anggota dari Zeni Angkatan Darat, yang akan bertugas merusak fasilitas radar Belanda di Kaimana.

Operasi Banteng I

Sambil menunggu perintah berangkat, pasukan memilih leyeh-leyeh di bawah sayap pesawat. Mereka berusaha tidur sekenanya untuk mengumpulkan tenaga. Tiga pesawat Dakota yang dipimpin Mayor Udara YE Nayoan, Komandan Skadron 2 Transport, disiapkan untuk menerbangkan pasukan ke Fak-Fak. Lengkapnya operasi ini akan menerjunkan satu tim gabungan yang terdiri dari 10 prajurit PGT, 30 prajurit RPKAD ditambah dua orang Zeni. Tim ini dipimpin Letda Agus Hernoto.

Sewaktu lepas landas dari Laha, hujan turun deras. April hingga Juni memang musimnya penghujan di kawasan Indonesia Timur. Dropping dilaksanakan di tengah temaramnya subuh di sebelah utara Fak-Fak.

Ketika formasi pesawat dalam perjalanan pulang, terlihat di laut sebuah kapal yang lampunya berkelap-kelip. Setelah Dakota pada posisi sejajar dengan kapal, diketahui dengan jelas bahwa ternyata kapal dimaksud milik angkatan laut Belanda. Lampu yang terlihat berkelap-kelip ternyata tembakan dari kapal ke Dakota. Formasi  Dakota langsung berbelok ke kanan dengan arah menjauh.
Setelah konsolidasi di pagi hari itu, rombongan PU II Pardjo yang diterjunkan di Fak-Fak ternyata selamat dan satu anggota dinyatakan hilang. Beberapa hari kemudian datang Marinir Belanda sehingga terjadi kontak senjata. Sesuai instruksi sebelumnya, bila kekuatan tidak seimbang segera masuk hutan. Setelah keadaan tenang mereka menyusup kembali ke kampung tersebut dan ternyata sudah kosong. Rumah-rumah penduduk dibakar oleh Belanda dan penduduknya mengungsi entah kemana.

Sementara pasukan yang diterjunkan di Fak-Fak, sekitar satu bulan bertahan di sekitar kampung Urere, kemudian mendapat perintah meninggalkan kampung. Dalam kondisi sudah lemah karena kekurangan makanan, pasukan berhenti sejenak di kebun pala untuk istirahat. Kemudian secara tiba-tiba diserang pasukan Belanda dari arah seberang sungai.

Dalam kontak senjata, lima anggota gugur yaitu KU I Adim Sunahyu, PU I Suwito, PU I Lestari, dua orang dari RPKAD yakni Sukani dan seorang lagi tak diketahui namanya. Komandan Peleton Letda Agus Hernoto tertembak di kedua kakinya dan ditawan Belanda. Sedangkan PU II Pardjo, kaki kanannya tertembak namun dengan sisa tenaganya berusah menyelinap. Setelah Belanda pergi, Pardjo berusaha merangkak (karena tak sanggup berdiri) menuju tempat kelima temannya yang gugur. Dia hanya sanggup berdoa dan tetap bertahan hidup di situ sekitar lima hari di antara mayat teman-temannya yang mulai membusuk.
Sebuah kebetulan beberapa orang Papua lewat. Mungkin kasihan melihat Pardjo yang terluka, ia digotong dan dibawa ke kampung terdekat. Setelah beberapa hari dirawat, digotong lagi bersama-sama menyusuri pantai menuju rumah sakit angkatan laut Belanda di Fak-Fak. Di sini ia memperoleh perawatan medis sebelum ditahan. Pada saat penahanan itu ia mendengar melalui radio Belanda bahwa telah terjadi gencatan senjata.

Setelah menjalani interogasi, ia dikirim dengan kapal laut ke Biak dan dari sana dibawa ke penjara di Pulau Wundi. Di sinilah akhirnya ia bertemu pasukan Resimen Pelopor, Kapten Kartawi dengan pasukannya, pasukan Peltu Nana, Serma Boy Tomas, Kapten Udara Djalaludin, Letnan Udara I Sukandar dan kru pesawat Dakota T-440.



Operasi Banteng II

Penerjunan di Kaimana yang pertama terdiri dari tiga pesawat Dakota yang diterbangkan oleh Kapten Udara Santoso dengan kopilot LU II Siboen, LU I Suhardjo dengan LU II M Diran, dan LU I Nurman Munaf dengan LU I Suwarta. Penerbangan ini dipimpin Kapten Santoso. Operasi ini menerjunkan satu tim gabungan PGT dan RPKAD (23 RPKAD, 9 PGT, dan satu perwira Zeni) di bawah pimpinan Letda Heru Sisnodo dan Letda Zipur Moertedjo sebagai pimpinan penghancur radar di Kaimana.

Setelah istirahat satu malam di Langgur, keesokan harinya 26 April 1962 pukul 04.45 waktu setempat, tiga Dakota lepas landas menuju sasaran di daerah Kaimana dengan terbang rendah dalam keadaan hujan. Pada saat fajar menyingsing sekitar pukul 05.30, pesawat mendekati daerah sasaran sekitar l0 kilometer dari kota Kaimana yang terletak pada suatu lembah. Pertama-tama diterjunkan adalah logistik, baru kemudian satu per satu pasukan keluar dan mendarat di Kampung Urere.
KU II Godipun masih sempat melihat buih-buih berkejaran di pantai Kaimana sebelum bel tanda persiapan untuk terjun, memecah kesunyian subuh itu. Karena masih gelap, umumnya tidak bisa menebak di mana akan jatuh. Yang terlihat hanya gundukkan hitam yang ternyata adalah hutan belantara dengan pepohonan menjulang tinggi bagaikan raksasa. Sampai di sini, malapetaka langsung menimpa mereka.

Hampir semuanya mendarat di puncak-puncak pohon yang tingginya sekitar 50 m. Situasi ini sedikit menguntungkan bagi yang membawa beban ekstra berat, seperti pembawa radio. Karena jika langsung mendarat di tanah, kemungkinan cedera sangat tinggi.

Dropping zone ini mereka ketahui sebagai wilayah Kampung Urere yang alias Pasir Putih. Karena jatuh di atas pohon, banyak di antara anggota mengalami cedera. Seperti KU I Sahudi, payungnya berhenti di antara dua pohon sehingga ia tergantung-gantung seperti buah mangga. Tidak mau hilang akal, Sahudi berusaha mengulur tali yang dibawa agar bisa turun. Rupanya tali yang dibawa sepanjang 30 meter itu tidak menyentuh permukaan tanah. Dia pun memutuskan menjatuhkan ransel perbekalan agar bisa mengira-ngira ketinggiannya. Cukup lama sebelum bunyi benda jatuh di tanah bisa didengarnya.

“Pohonnya tinggi sekali,” kenang Sahudi.

Hari sudah mulai siang dan badan pun mulai letih karena tidak makan. Tidak mau mati konyol di atas pohon, Sahudi mulai mengayunkan payung agar bisa meraih dahan terdekat. Berkali-kali ia coba namun sebanyak itu pula ia gagal. Tanpa disadarinya, karena terus bergoyang, payungnya mulai merosot dari pohon. Sampai akhirnya lepas dan Sahudi pun terpental ke pohon sebelum terhempas di tanah dengan punggung jatuh lebih dulu.

Ia merasakan sakit tak terperikan di punggung, membuatnya nyaris tidak bisa bergerak. Baru kemudian ia sadari bahwa tulang punggungnya patah! Tak jauh dari tempatnya jatuh, ia melihat rekannya KU I J. Dompas yang terluka dan Pratu Margono dari RPKAD mengalami patah kaki. Mereka bermalam di situ selama beberapa hari, dan mendapat bantuan dari penduduk setempat.
Siang itu Belanda mulai mencium kehadiran pasukan gabungan. Gara-garanya setelah pesawat Belanda yang melintas, pilotnya melihat parasut bertaburan di puncak-puncak pohon. Karena itu Belanda pun mengirim sejumlah polisi yang umumnya direkrut dari putra asli Irian untuk mengecek kebenarannya. Untunglah ada penduduk berbaik hati mengabarkan bahwa ada polisi datang.

“Tuan besar datang, tuan besar datang,” kata mereka. Malam itu juga Sahudi dan kedua rekannya meninggalkan kampung kecil itu. Karena sedang sakit, Margono hanya bisa merangkak, sementara Sahudi tertatih-tatih.

Seperti yang lainnya, Godipun juga tersangkut di sebuah dahan. Malang baginya karena ransel peluru dan granatnya lolos ke bawah. Menggunakan tali, Godipun mencoba turun ke bawah. Namun dahan tempatnya bergantung tiba-tiba patah, sehingga ia jatuh di pinggir kali berlumpur. Untung lumpurnya cukup dalam, sehingga menjadi seperti matras. Hampir seluruh kakinya tertanam di lumpur. Setelah berhasil keluar, ia mendengar suara pluit di ketinggian, yang ketika dilihatnya berasal dari Sarjono. Temannya ini tidak bisa turun karena sudah lemas. Oleh Godipun ditolong turun. Dia kembali naik karena ransel dan perbekalan temannya masih tersangkut di ranting.

Pada hari ketiga setelah bertemu teman-teman yang lain, yaitu Sahudi, KU I Fortianus, KU I Dompas, KU II Jhon Saleky, KU II Aipassa, dan tiga orang lagi yang namanya tidak diketahui.

Dua orang yang mengalami patah kaki, terpaksa dititipkan kepada penduduk di sekitar dropping zone. Keluarga ini awalnya menerima dan bersikap baik, namun ternyata mereka sudah dibina oleh Belanda. Sehingga kedua anggota yang patah kaki tadi diserahkan kepada Belanda.
Komandan tim Lettu Heru Sisnodo memutuskan, KU I Sahudi dan Pratu Margono yang tengah sakit parah ditinggal di tempat karena akan mengganggu gerakan pasukan. Pasukan ini mengalami kontak senjata dengan Belanda sewaktu memotong sagu. Dalam kontak ini pasukan PGT tercerai-berai karena kekuatan tidak seimbang, disamping fisik mereka sudah lemah. Setelah tembakan berhenti, Heru memerintahkan Godipun membantu rekan-rekan yang lain.

“Saya pergi dan menemukan bekas tempat mereka memasak sagu,” ujar Godipun. Besoknya Belanda kembali datang, dan kembali terjadi kontak tembak, namun tidak ada yang terluka.

Dalam kontak tembak ini KU I Fortianus tertembak di dada dan tewas di tempat, sedangkan Pratu Suyono dari RPKAD berhasil meloloskan diri dan akhirnya bertemu dua orang yang ditinggal karena cedera yaitu KU I Sahudi dan Pratu Margono. Pada 18 Juli, dua orang yang cedera ini ditambah Pratu Suyono tertangkap Polisi Belanda di bawah pimpinan Letnan Pol Ayal (asal Ambon) dan wakilnya Torar (asal Manado).

Pada suatu hari, Godipun disuruh menebang pohon pisang yang agak jauh dari induk pasukan. Begitu kembali, ia sudah tidak menemukan rekan-rekannya, pergi entah kemana. Dia berusaha menyusul. Sial baginya, di perjalanan ia disergap Belanda. “Angkat tangan, lempar senjata!” Salah seorang berteriak ke arahnya. Godipun langsung tiarap dan merayap menjauh. Karena tidak kunjung keluar, tembakan gencar pun diarahkan ke persembunyiannya.

“Saya betul-betul disiram,” kenang Godipun. Sebuah timah panas akhirnya mendarat di pundaknya. Sakit sekali, sampai-sampai rasanya mau nangis. Pundak kirinya hancur dan tulang belikatnya mencelat keluar.

Nyaris sudah pasrah karena kondisinya cukup parah, Godipun masih berusaha untuk tidak tertangkap. Dia bersembunyi di balik sebuah pohon besar. Belanda tidak berhasil menemukannya sampai akhirnya pergi. Tak lama kemudian, Godipun berusaha keluar. Rasanya, tangan kirinya sudah tidak ada, kalau pun masih ada sudah tidak bisa digerakkan. Sambil menahan sakit, Godipun terus berjalan sampai menemukan teman-temannya. Ia lalu mendapat pengobatan dari orang kesehatan RPKAD, Komaruddin.
Besok paginya Heru menawarkan Godipun untuk menyerahkan diri. Dipikirnya dengan menyerahkan diri, anak buahnya ini akan mendapatkan pengobatan dari dokter Belanda. “Komandan, kalau saya mau menyerah sudah dari tadi, sumpah prajurit tidak boleh menyerah,” jawab Godipun tegas dengan nada tersinggung.

Penangkapan ketiga orang ini akibat ulah penduduk yang kelihatannya cukup baik, namun sebenarnya kaki tangan Belanda. Pasukan yang dapat lolos setelah kontak senjata dengan Belanda kemudian bergerilya dan bertahan dalam alam yang ganas selama tiga bulan.

Pasukan ini dibekali sejumlah mata uang gulden Papua. Cara mendekati sasaran dengan mengikuti jejak pasukan Belanda dan menggunakan penduduk setempat sebagai penunjuk jalan, tetapi apabila terjadi kontak senjata penduduk itu melarikan diri. Dalam perjalanan terjadi beberapa kali kontak senjata. Yang gugur ditinggalkan dengan diberi tanda sedangkan senjatanya disembunyikan.

Makanan memang sulit didapat, kalau kebetulan menjumpai tanaman rakyat seperti talas atau pisang, terpaksa dimakan dan sebagai gantinya ditinggalkan uang gulden untuk pembayaran. Dalam perjalanan ini mereka bertemu salah seorang anggota Banteng Raiders yang lepas dari induk pasukannya.

Jarak antara kampung Pasir Putih dan Kaimana sekitar 20 km, tetapi ada jalan pintas melalui jalan setapak. Karena itu usaha Belanda mencegat para gerilyawan dilakukan melalui laut dari Kaimana dan pada tempat-tempat tertentu pasukan diturunkan ke darat untuk mengadakan patroli. Semakin dekat ke Kaimana semakin sering terjadi kontak senjata. Perkampungan penduduk di sekitar Kaimana telah dijaga ketat pasukan Belanda dan mata-matanya. Kekurangan makanan menyebabkan kondisi fisik pasukan menjadi lemah, gerakan menjadi lamban dan akhirnya upaya pengamanan kurang diperhatikan.
Keadaan medan dan perlawanan Belanda sebenarnya tidak berat, yang berat justru sulitnya mendapatkan makanan. Dalam suatu kontak senjata dengan musuh, Prada Surip bersama tiga temannya terpisah. Ia bersama tiga temannya yaitu Sabaruddin, Ijang Supardi dan Aipasa (PGT) berusaha mendekati sebuah perkampungan. Rupanya kedatangan mereka telah ditunggu Belanda, sehingga terjadi kontak.

Kelompok yang semula empat orang ini terpecah lagi. Akhirnya Prada Surip tinggal sendirian. Pasukan Belanda terus melakukan pengejaran. Karena kondisi sangat lemah, akhirnya mereka tertangkap. Anggota pasukan lain di bawah pimpinan Heru Sisnodo, sampai terjadinya gencatan senjata terus melakukan gerilya di sekitar Kaimana. Berita gencatan senjata baru mereka terima melalui pamflet yang dijatuhkan dari udara, yang itupun mereka duga hanya tipu muslihat Belanda.

Letda Czi Moertedjo dengan tiga pengikut menjelang mendekati Kaimana, terjebak oleh pasukan Belanda. Dalam kondisi kurang makan berhadapan dengan kekuatan Belanda yang lebih besar akhirnya mereka tertangkap.

Sepertinya saat melaksanakan gerilya di sekitar Kaimana, Jhon Saleky bersama Heru Sisnodo bertemu dengan kelompok perlawanan anti-Belanda dipimpin Mayor (Tituler) Lodewijk Mandatjan. Dalam sejarah perjuangan Trikora, kelompok Mandatjan dikenal sebagai penentang Belanda yang kemudian memilih masuk hutan untuk melaksanakan perang gerilya terhadap Belanda. Karena melihat anggota APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia) di tengah hutan, Mandatjan kemudian mengajak mereka bergabung.

Godipun sendiri tertangkap tanggal 7 Juni. Saat tertangkap, ia dalam pelarian seorang diri setelah kelompoknya terpecah karena diserang Belanda. Tanpa senjata karena disimpan di dalam hutan setelah bahunya tertembak, Godipun berjalan hingga tiba di sebuah pantai di Kampung Sisir. Ia pun lupa membawa bungkusan yang isinya kitab suci dan tertinggal di hutan. Di sini jejaknya tersendus anjing pelacak Belanda. Beberapa orang penduduk lokal mengejarnya dari belakang sambil mengacungkan golok dan tombak. Dia mencoba untuk lari, namun dicegah oleh sebuah teriakan keras, Berhentiiiiiiiii! “Saya balik kanan, saya pikir akan digorok, tapi rupanya mereka tercekat melihat saya.”


Kalung Rosario yang tersembul dari balik bajunya mengagetkan para pemburunya. “Kamu agama apa,” tanya mereka yang dijawab singkat, “Katolik.” Yang bertanya malah tidak percaya dan marah sambil berujar, “Bohong kamu, kamu babi Soekarno, bikin rusak tanah saya. Kamu mau hidup atau mau mati.” Akhirnya Godipun dibawa ke sebuah rumah panggung di pinggir pantai. Di situ ia melihat cukup banyak kuburan yang masih baru. Apakah ada temannya yang dimakamkan di situ? Godipun hanya mengernyitkan dahinya.

Dia ditanya macam-macam, seperti siapa komandannya, di mana dia, di mana teman-teman. Karena memang tersasar, ia tidak bisa memberikan jawaban. Setelah mendapat havermut (oatmeal), minum, dan sebatang rokok, siang itu ia dibawa ke rumah sakit untuk diobati. Suatu hari di penjara, ia didatangi seorang pastor Belanda berjubah putih yang menawarkan sakramen pengakuan dosa. Ia diajak ke ruangan komandan polisi untuk melaksanakan pengakuan dosa.
“Oleh pastor didoakan supaya Belanda dan Indonesia cepat damai dan saya cepat dipulangkan.” Kemudian diketahuinya nama pastor itu Van Manen. Saat kembali ke kamar tahanan, ia melihat di sebuah meja sebuah bungkusan yang ia sangat kenal. “Saya bilang ini punya saya, puji tuhan,” ujarnya. Rupanya bungkusan itu berisi kitab Taurat dan Injil.

Setelah di penjara sekian lama, suatu hari mereka dibawa dengan pesawat Dakota ke Biak. Dengan mata ditutup, mereka dituntun ke dalam pesawat yang ternyata di dalamnya sudah banyak wartawan asing. Mencermati penuturan ini, sepertinya peristiwanya berlangsung setelah cease fire. Mereka pun difoto oleh sejumlah wartawan. Di penjara Biak, Godipun bertemu Sarjono yang pernah ia turunkan pakai tali.

Kenangan  pahitnya bersama Sarjono adalah, ketika temannya ini memutuskan merebus sepatu karena sangat kelaparan.

Dari Biak mereka dipindah ke penjara Wundi. Pada bulan September mereka disuruh siap-siap naik kapal untuk dibawa kembali ke Biak. Di sini sudah menunggu Hercules milik UNTEA yang akan menerbangkan mereka ke Kemayoran, Jakarta.

Di akhir Operasi Banteng Ketaton di Kaimana diketahui bahwa PGT telah kehilangan sejumlah anggotanya. Mereka yang gugur adalah KU I Fortianus dan KU II Gintoro. Sementara yang terluka tembak adalah KU I Sahudi yang terluka saat terjun dan PU I G. Godipun. Adapun yang gugur di Fak-Fak adalah SMU Picaulima, KU I Atjim Sunahju, KU I Sariin bin Djafar, PU I Lestari, dan PU I Suwito. Dua orang yaitu KU I S. Bomba dan PU I Pardjo hanya mengalami luka ringan.
Sumber: angkasa.co.id

Inilah Rahasia Kehebatan Tank Leopard 2RI TNI AD


Patriot NKRI - Dari sosok luarnya, Leopard 2RI sudah nampak berbeda dibandingkan dengan Leopard 2A4 yang sudah terlebih dahulu datang. Jika Leopard 2A4 tampil mengotak dengan garis-garis tegas, maka Leopard 2RI tampil dinamis dengan modul-modul AMAP menghias hull dan kubah.


Jika setelah sekian lama hanya bisa menduga-duga, selubung misteri Leopard 2RI kini terbuka sudah, dari sosok penampilannya kita bisa menduga opsi kit apa saja yang akhirnya dipilih TNI AD. Tidak semua paket upgrade Leopard Revolution dipilih, hanya yang benar-benar diperlukan saja yang dipasangkan ke tubuh Leopard 2A4 untuk mengubahnya menjadi Leopard 2RI.
Inti dari perlindungan Leopard 2RI adalah lapisan blok komposit AMAP (Advanced Modular Armour Protection) buatan IBD (IngenierBüro Deisenroth)-Deisenroth. Konsepnya adalah perlindungan 360 derajat, dimana Leopard 2 Revolution harus bisa dilindungi dari segala sisi. Hal ini menyesuaikan dengan tren dimana tank digunakan dalam situasi urban, ancaman senjata seperti roket dan rudal antitank jauh lebih mengemuka. IBD Deisenroth membuat proteksi pasif alias proteksi balistik sangat canggih.

Bobot keramik nano ini saat dikonfigurasikan menurut standar proteksi NATO STANAG 4569 Level 3 atau 4/ AEP 55 Level 3. Keping AMAP dibangun dan disusun menjadi blok AMAP-B (Ballistic) yang dipasangkan ke side skirt, glacis, dan keseluruhan kubah termasuk sisi atas dan pangkal laras Leopard 2RI. Panel-panel ini didesain dengan fitur engsel untuk memudahkannya dibuka, dilepas, dan dilakukan perawatan sekaligus penggantian secara terbatas.


Biarpun bentuk panel AMAP mengotak, sesungguhnya isinya kosong. Ruang kosong memungkinkan energi dan inti panas dari hulu ledak HEAT yang menghantam AMAP untuk menyebar dan tidak menembus kulit asli tank. Lampu sorot depan Leopard 2RI mempertahankan bentuk aslinya yang membulat dan dipasang di atas glacis, beda dengan paket Revolution yang menggunakan lampu LED dan sudah ditanam di glacis.

Di atas glacis terpasang kotak SAS (Situational Awareness System) berupa kamera dengan fitur night vision agar pengemudi dapat mengendalikan kendaraan dengan mudah, tidak lagi mengandalkan blok prisma yang terbatas kemampuannya. 

Uniknya, pemasangan AMAP-B tidak diteruskan sampai ke belakang. Pada Leopard 2RI dibiarkan kosong, hanya dipasangi kit track cadangan di sebelah kiri. Paket Revolution menyediakan slat armor alias pagar untuk menangkis RPG-7, tetapi opsi ini tidak dipergoki pada Leopard 2A7. 

Mungkin karena sifatnya yang sederhana slat armor ini dapat dipasang kemudian oleh PT Pindad sebagai bagian dari ToT alias Transfer Teknologi, sama seperti kontrak yang diterima PT Pindad untuk memasang sistem pendingin udara pada Leopard 2A4.
Di sebelah kanan terdapat kotak yang diduga merupakan inlet dari APU (Auxiliary Power Unit) berupa mesin diesel cadangan yang dapat digunakan memutar kubah. Leopard 2RI dapat beroperasi secara senyap saat mengintai mangsa, mematikan mesin utama dan mengandalkan APU yang suaranya lebih tenang sehingga heat signature Leopard 2RI menurun drastis dan lawan tidak bisa mendengar suara Leo 2RI sampai semuanya sudah terlambat. Varian Leopard 2SG yang diugrade ke standar Evolution oleh Krauss Maffei Wagmann tidak memiliki fitur APU tersebut.

Untuk sistem senjata, Leopard 2RI tetap mengandalkan meriam 120mm L44, yang tidak diubah. Yang dimodifikasi adalah sistem turret drive yang kini sudah sepenuhnya elektrik, menawarkan keunggulan lebih aman, lebih ajek, dan lebih senyap.

Sistem kubah remote tidak terlihat terpasang pada Leopard 2RI. Juga tidak terpasang pada Leopard 2RI adalah sistem ROSY (Rapid Obscuring System).

Pada dasarnya sistem ROSY merupakan gabungan integral antara IR Jammer/ decoy dan pelontar granat asap, yang bisa memicu pelontaran granat asap secara otomatis apabila terdeteksi adanya rudal antitank atau ancaman lain yang mendekat.

Leopard 2RI masih mengandalkan sistem pelontar granat asap konvensional yang dipasang di kiri-kanan kubah belakang. Paling penting dari sebuah tank adalah, kenyamanannya. Untuk itulah Leopard 2RI sudah dilengkapi sistem pendingin udara yang dipasang di belakang bustle, dengan inlet udara dari sisi atas yang dilindungi kawat baja.

Untuk kamera panoramik, komandan Leopard 2RI masih akan mengintip dari sistem kamera PERI R-17, dimana Leopard 2RI kelihatan tidak mengambil opsi kamera panoramik SEOSS yang ditawarkan dalam paket Revolution.
Leopard 2RI tiba di tanah air pada Senin (23/5) di dermaga Tanjung Priok. Rencananya kedelapan Leopard 2RI akan menghuni Batalion Kavaleri 1/ Tank Badak Ceta Cakti di Cijantung, menggantikan tank mini Scorpion-90.

Sumber: angkasa.co.id